<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436</id><updated>2011-10-02T23:54:43.551+07:00</updated><category term='Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia'/><title type='text'>6 ~ Crat0N's Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://6-craton.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-7471979848270750046</id><published>2011-08-24T22:58:00.000+07:00</published><updated>2011-08-23T16:16:19.750+07:00</updated><title type='text'>Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: #66bb33; color: #333333; font-family: Georgia, Utopia, 'Palatino Linotype', Palatino, serif; font-size: 14px; line-height: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title" style="font: normal normal normal 30px/normal Georgia, Utopia, 'Palatino Linotype', Palatino, serif; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; position: relative;"&gt;&lt;a href="http://melulomba-seo.blogspot.com/2011/08/adira-asuransi-kendaraan-terbaik.html" style="color: #ff3300; text-decoration: none;"&gt;Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-7471979848270750046?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/7471979848270750046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/7471979848270750046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2011/05/eberapa-info-yang-ditunggu.html' title='Adira Asuransi Kendaraan Terbaik Indonesia'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-3759623585157156436</id><published>2011-05-01T22:27:00.003+07:00</published><updated>2011-05-01T22:28:24.998+07:00</updated><title type='text'>hasil rekapitulasi sementara pemilukada / pilkada kabupaten pekalongan (kajen)</title><content type='html'>hasil quick count pilkada / pemilukada kabutaen pekalongan,&lt;br /&gt;kajen,&lt;br /&gt;antono- siti qomariah -fadia a rafiq -riswandi -ponco&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-text-decorations-in-effect: underline; color: #2200c1; font-family: arial, sans-serif; line-height: 19px;"&gt;&lt;em style="font-style: normal; font-weight: bold;"&gt;Hasil&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Pemilihan Bupati&amp;nbsp;&lt;em style="font-style: normal; font-weight: bold;"&gt;Kabupaten Pekalongan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-3759623585157156436?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/3759623585157156436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/3759623585157156436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2011/05/hasil-rekapitulasi-sementara-pemilukada.html' title='hasil rekapitulasi sementara pemilukada / pilkada kabupaten pekalongan (kajen)'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-3035667422193595364</id><published>2011-01-05T09:31:00.002+07:00</published><updated>2011-01-05T09:31:18.779+07:00</updated><title type='text'>MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP</title><content type='html'>&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;A. PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu is menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa anti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menems, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk_yang disebut pandangan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;B. CITA-CITA&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita-cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan datang. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan lain: cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Faktor manusia yang mau mencapai cita-cita ditentukan oleh knalitas manusianya. Ada orang yag tidak berkemauan, sehingga apa yang dicita-citakan hanya merupakan khayalan saja. Hal demikian banyak menimpa anak-anak muda yang memang senang berkhayal, tetapi sulit mencapai apa yang dicita-citakan karena kurang mengukur dengan kemampuannya sendiri.Sebaliknya dengan anak yang dengan kemauan keras ingin mencapai apa yang di cita-citakan, cita-cita merupakan motivasi atau dorongan dalam menempuh hidup untuk mencapainya. Cara keras dalam mencapai cita-cita merupakan suatu perjuangan hidup yang bila bethasil akan menjadikan dirinya puas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita, sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi tercapainya suatu cita-cita. Faktor tingginya cita-cita yang merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita-cita. Memang ada anjuran agar seseorang menggantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit. Tetapi bagaimana faktor manusianya, mampukah yang bersangkutan mencapainya; demikian juga faktor kondisinya memungkinkan hal itu. apakah dapat merupakan pendorong atau penghalang cita-cita. Sementara itu ada lagi anjuran, agar seseorang mcnempatkan cita-citanya yang sepadan atau sesuai dengan kemampuannya. Pepatah mengatakan “bayang-bayang setinggi badan”, artinya mencapai cita-cita sesuai dengan kemampuan dirinya. Anjuran yang terakhir ini menyebabkan seseorang secara bertahap mencapai apa yang diidam-idamkan. Pada umumnya dilakukan dengan penuh perhitungan sesuai dengan kemampuan yang dim iliki saat itu serta kondisi yang dilaluinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;C. KEBAJIKAN&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan nonna-norrna agama dan etika.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan. Kedua unsur itu terpisah bila manusia meninggal. Karena merupakan pribadi, manusia mempunyai pendapat sendiri, ia mencintai diri sendiri, perasaan sendiri, cita-cita sendiri dan sebagainya. Justru karena itu, karena mementingkan diri sendiri, seringkali manusia tidak mengenal kebajikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpalcaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Baik-buruk, kebajikan dan ketidakbijakan menimbulkan daya kreatifitas bagi seniman. Banyak hasil seni lahir dari imajinasi kebajikan dan ketidakbajikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;D. USAHA / PERJUANGAN&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia hams kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan. Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempuma. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia hams kerja keras. Apabila seseorang bercita-cita menjadi ilmuwan, ia hams rajin belajar dan tekun serta memenuh semua ketentuan akademik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani, atau dengan kedua-duanya. Para ilmuwan lebih banyak bekerja keras dengan otak/ilmunya daripada dengan jasmaninya. Sebaliknya pars buruh, petani lebih banyak menggunakan jasamani daripada otaknya. Para tukang dan pars ahli lebih banyak menggunalcan kedua-duanya otak dan jasmani daripada salah satunya. Para politisi lebih banyak kerja otak daripada jasmani. Sebaliknya pars prajurit lebih banyak kerja jasmani daripada otak.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;E. KEYAKINAN / KEPERCAYAAN&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;(a) Aliran Naturalisme&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang tidak percaya pada Tuhan, natur itulah yang tertinggi. Tuhan menciptakan alam semesta lengkap dengan hukum-hukumnya, secara mutlak dikuasai Tuhan. Manusia sebagai mahluk tidak mampu menguasai alam ini, karma manusia itu lemah. Manusia hanya dapat berusaha/berencana tetapi Tuhan yang menentukan .&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar ? Yang benar adalah keyakinan. Jika kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakan Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan Tuhan tidak ada yang ada hanya natur.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Bagi yang percaya Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama itu ada dua macam yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;1. Ajaran agama dogmatis, yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi-nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat mutlak (absolut), terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan Hadist. Sifatnya tetap, tidak berubah-ubah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;2. Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif (terbatas). Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama tennasuk kebudayaan, terdapat dalam buku-buku agama yang ditulis oleh pemuka-pemuka agama. Sifatnya dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;(b) Aliran intelektualisme&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan had nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan pikir (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi. Telmologi adalah alat bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan had nurani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Akal berasal dari bahasa Arab, artinya kalbu, yang berpusat di hati, sehingga timbul istilah “hati nurani”, artinya daya rasa. Di Barat hati nurani ini menipis, justru yang menonjol adalah akal yaitu logika berpikir. Karena itu aliran ini banyak dianut di kalangan Barat Di Timur orang mengutamakan had nurani,yang baik menurut akal belum tentu baik menurut had nurani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;(c) Aliran Gabungan&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib Minya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani). Jadi, apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh had nurani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan had nurani dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;F. LANGKAH-LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAI1K.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita memeperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukaan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;(1) Mengenal&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam jal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia itu pasti mempunyai pandangan hidup, maka kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada, dan bahkan hidup itu ada sebelum manusia itu belum tunin ke dunia. Adam dan hawalah dalam hal ini yang merupakan manusia pertama, dan berarti pula mereka mempunyai pandangan hidup yang digunakan sebagai pedoman dan yang memberi petunjuk kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Tahan kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bemegara kita berpandangan pada Pancasila, maka dalam berpandangan hidup pada Pancasila kita hendaknya mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bemegara. Begitu juga bagai yang berpandangan hidup pada agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an, Hadist dan ijmak itu dan bagaimana ketiganya itu mengatur kehidupan baik di dunia maupun di akherat. Selain itu juga kita mengerti untuk apa dan dari mana Al Qur’an, hadist, dan ijmak itu. Sehingga dengan demikian mempunyai suatu konsep pengertian tentang pandangan hidup dalam Agama Islam.(3) Menghayati&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Langkah selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati pandangan hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hdiup itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan mernperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam rangka menghayati ini, menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya kepada orang yang dianggap lebih tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan menghayati pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang pandangan hidup itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;(4) Meyakini&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" class="MsoNormal"&gt;Setelah mengetahui kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan, maupun ditinjau dari segi kemasyarakatan maupun negara dan dari kehidupan di akherat, maka hendaknya kita meyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu. Meyakini ini merupakan suatu hal untuk cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-3035667422193595364?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/3035667422193595364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/3035667422193595364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2011/01/manusia-dan-pandangan-hidup.html' title='MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-9004948761927897510</id><published>2010-12-08T11:18:00.000+07:00</published><updated>2010-12-08T11:20:07.137+07:00</updated><title type='text'>otonomi daerah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;NOMOR 22 TAHUN 1999&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMERINTAHAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menimbang : &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah, dipandang perlu untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokra-si, peran-serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keanekaragaman Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan, baik di dalam maupun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;di luar negeri, serta tantangan persaingan global, dipandang perlu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;proporsional, yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan keuangan Pusat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Daerah, sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran-serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta potensi dan keanekaragaman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah, yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. bahwa ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 2 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sehingga perlu diganti;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56; Tambahan Lembaran Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 3153) yang menyeragamkan nama, bentuk, susunan, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kedudukan pemerintahan Desa, tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. bahwa berhubung dengan itu, perlu ditetapkan Undang-undang mengenai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Di Daerah dan Undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengingat : 1. Pasal 1 ayat (1), Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, dan Pasal 20 ayat (1) Undang-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang Dasar 1945;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Haluan Negara;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4. Ketetapan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 3 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kesatuan Republik Indonesia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan persetujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MEMUTUSKAN :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN UMUM&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 1&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;para Menteri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Pemerintah ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 4 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disebut DPRD, adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Legislatif Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan Pemerintahan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas Desentralisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada yang menugaskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. Otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah Otonom untuk mengatur dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;i. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan aspirasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 5 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;j. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;k. Instansi Vertikal adalah perangkat Departemen dan atau Lembaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Non-Departemen di Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;l. Pejabat yang berwenang adalah pejabat Pemerintah di tingkat Pusat dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau pejabat Pemerintah di Daerah Propinsi yang berwenang membina dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengawasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;m. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan Daerah Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;n. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan/atau Daerah Kota di bawah Kecamatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;o. Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;p. Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam, dengan susunan fungsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;q. Kawasan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 6 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;q. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBAGIAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang bersifat otonom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wilayah Daerah Propinsi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam rangka pelaksanaan asas Desentralisasi dibentuk dan disusun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang berwenang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengatur dan mengurus kepentingan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 7 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masing-masing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah, sosial-budaya, sosial-politik, jumlah penduduk, luas Daerah, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pembentukan, nama, batas, dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) ditetapkan dengan Undang-Undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perubahan nama Daerah, serta perubahan nama dan pemindahan ibukota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Syarat-syarat pembentukan Daerah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan Otonomi Daerah dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dihapus dan atau digabung dengan Daerah lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kriteria tentang penghapusan, penggabungan, dan pemekaran Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Penghapusan, ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 8 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Penghapusan, penggabungan dan pemekaran Daerah, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEWENANGAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan bidang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kewenangan bidang lain, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumber daya manusia, pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tinggi yang strategis, konservasi, dan standardisasi nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan kewenangan yang diserahkan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kewenangan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 9 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kewenangan Pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan yang dilimpahkan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota, serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Daerah Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kewenangan Propinsi sebagai Wilayah Administrasi mencakup&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur selaku wakil Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kewenangan Daerah di wilayah laut, sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3, meliputi :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebatas wilayah laut tersebut;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. pengaturan kepentingan administratif;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. pengaturan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 10 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. pengaturan tata ruang;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah sejauh sepertiga dari batas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;laut Daerah Propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kerja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 11 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan, sarana dan prasarana, serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap penugasan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesatu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Umum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kedudukan, susunan, tugas, wewenang, hak, keanggotaan, pim-pinan, dan alat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kelengkapan DPRD diatur dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 12 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mitra dari Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan, komisi-komisi, dan panitiapanitia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pelaksanaan ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. memilih Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Walikota/Wakil Walikota;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/ Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, atau Walikota/ Wakil Walikota;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. bersama dengan Gubernur, Bupati, atau Walikota membentuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. bersama ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 13 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. bersama dengan Gubernur, Bupati, atau Walikota menetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. melaksanakan pengawasan terhadap :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1) pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2) pelaksanaan Keputusan Gubernur, Bupati, dan Walikota;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3) pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4) kebijakan Pemerintah Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5) pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pelaksanaan tugas dan wewenang, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 19&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD mempunyai hak :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. meminta pertanggungjawaban Gubernur, Bupati, dan Walikota;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. mengadakan penyelidikan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. mengajukan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 14 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. mengajukan pernyataan pendapat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. menentukan Anggaran Belanja DPRD; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pelaksanaan hak, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pejabat pemerintah, atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara, bangsa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan, dan pembangunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pejabat negara, pejabat pemerintah, atau warga masyarakat yang menolak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;permintaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diancam dengan pidana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kehormatan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pelaksanaan hak, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 21&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggota DPRD mempunyai hak :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. pengajuan pertanyaan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. protokoler; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. keuangan/administrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pelaksanaan hak, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 15 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD mempunyai kewajiban :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta mentaati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;segala peraturan perundang-undangan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ekonomi; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. memperhatikan dan menyalurkan aspirasi, menerima keluhan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengaduan masyarakat, serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam setahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kecuali yang dimaksud pada ayat (1), atas permintaan sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah, Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diterima.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pelaksanaan ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 16 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 25&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum, kecuali yang dinyatakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;antara pimpinan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 26&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rapat tertutup dapat mengambil keputusan, kecuali mengenai :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. utang piutang, pinjaman, dan pembebanan kepada Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. Badan Usaha Milik Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;i. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;j. kebijakan tata ruang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD, baik terbuka maupun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tertutup, yang diajukannya secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lisan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 17 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lisan atau tertulis, kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kitab Undang-undang Hukum Pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota, kecuali jika yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selambat-lambatnya dalam tempo 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau Gubernur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretariat DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 29&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggara-kan tugas dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persetujuan pimpinan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Sekretaris ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 18 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Anggaran Belanja Sekretariat DPRD ditetapkan dengan Keputusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 30&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai kepala eksekutif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah Propinsi disebut Gubernur, yang karena jabatannya adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;juga sebagai wakil Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban, sebagaimana dimaksud pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (2), ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Dalam ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 19 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Dalam kedudukan sebagai wakil Pemerintah, Gubernur berada di bawah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan bertanggung jawab kepada Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban, sebagaimana dimaksud pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (4), ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Daerah Kota disebut Walikota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban, sebagaimana dimaksud pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (3), ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 33&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia dengan syarat-syarat :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah yang sah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Negara Kesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan Ketua Pengadilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negeri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau sederajat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. berumur ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 20 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. sehat jasmani dan rohani;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;i. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negeri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;j. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;k. menyerahkan daftar kekayaan pribadi; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;l. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 34&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah, dite-tapkan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah, dibentuk Panitia Pemilihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tetapi bukan anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 35&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Panitia pemilihan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertugas :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. melakukan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 21 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Panitia Pemilihan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada pimpinan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam Rapat Paripurna DPRD, setiap fraksi atau beberapa fraksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pimpinan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 22 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;visi, misi, serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terpilih sebagai Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pasang di antaranya oleh DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 38&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keputusan pimpinan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 39&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dua pertiga dari jumlah anggota DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1), pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;satu jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Apabila ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 23 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Apabila ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), belum dicapai,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 40&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;langsung, bebas, rahasia, jujur, dan adil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD, sebagaimana dimaksud dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37 ayat (4).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memperoleh suara terbanyak pada pemilihan, sebagaimana dimaksud pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (2), ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 41&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hanya untuk sekali masa jabatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 42&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertindak atas nama Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sebelum memangku jabatannya, Kepala Daerah mengucap-kan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumpah/janji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Susunan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 24 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Demi Allah (Tuhan), saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/Bupati/ Walikota dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya; bahwa saya akan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dasar negara; dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kesatuan Republik Indonesia”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewajiban Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 43&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah mempunyai kewajiban :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Agustus 1945;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. menghormati kedaulatan rakyat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. mengajukan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 25 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah bersama dengan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 44&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, Kepala Daerah bertanggung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jawab kepada DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyeleng-garaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintahan Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah Kota, sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun, atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 45&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada setiap akhir tahun anggaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 44 ayat (2).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 46&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya, seba-gaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 45, baik pertanggungjawaban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebijakan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 26 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebijakan pemerintahan maupun pertanggung-jawaban keuangan, harus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melengkapi dan/atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lama tiga puluh hari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertanggungjawabannya menyampaikan-nya kembali kepada DPRD,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kalinya, DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Tata cara, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ditetapkan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 47&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menunjuk kuasa untuk mewakilinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keenam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Larangan bagi Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 48&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah dilarang :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. turut serta dalam suatu perusahaan, baik milik swasta maupun milik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara/Daerah, atau dalam yayasan bidang apa pun juga;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dirinya, anggota keluarganya, kroninya, golongan tertentu, atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kelompok politiknya yang secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nyata ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 27 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasi-kan warga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara dan golongan masyarakat lain;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya, baik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;secara langsung maupun tidak langsung, yang berhubungan dengan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang bersangkutan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. menerima uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukannya; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selain yang dimaksud dalam Pasal 47.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketujuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemberhentian Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 49&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. meninggal dunia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melibatkan tanggung jawabnya, dan keterangannya atas kasus itu ditolak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 50 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 28 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 50&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disahkan oleh Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Keputusan DPRD, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus dihadiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jumlah anggota yang hadir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 51&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukuman lima tahun atau lebih, atau diancam dengan hukuman mati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 52&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Keputusan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuat-an yang dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden, tanpa persetujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kepala ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 29 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1), diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;akhir masa jabatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 53&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;secara tertulis kepada yang bersangkutan, enam bulan sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dengan adanya pemberitahuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berakhir, DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 54&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 53, tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dalam masa jabatan berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 30 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedelapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tindakan Penyidikan terhadap Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 55&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persetujuan tertulis dari Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan pidana penjara lima tahun atau lebih; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukuman mati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setelah tindakan penyidikan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukan, hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam 2 kali 24 jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesembilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 56&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Sebelum memangku jabatannya, Wakil Kepala Daerah mengucapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumpah/janji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Demi ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 31 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Demi Allah (Tuhan), saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/ Wakil Bupati/Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Walikota dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pancasila sebagai dasar negara; dan bahwa saya akan menegakkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Ketentuan-ketentuan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, Pasal 41,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 43 kecuali huruf g, Pasal 47 sampai dengan Pasal 54, berlaku juga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bagi Wakil Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Wakil Kepala Daerah Propinsi disebut Wakil Gubernur, Wakil Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disebut Wakil Walikota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 57&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Wakil ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 32 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;apabila Kepala Daerah berhalangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 58&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap, jabatan Kepala Daerah diganti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap, jabatan Wakil Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah tidak diisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berha-langan tetap,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesepuluh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kedudukan Keuangan Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 59&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kedudukan keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kesebelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perangkat Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 60&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah dan lembaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;teknis Daerah lainnya, sesuai dengan kebutuhan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 61 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 33 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 61&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Sekretariat Daerah dipimpin oleh Sekretaris Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sekretaris Daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Administrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negeri Sipil yang memenuhi syarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas, lembaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;teknis, dan unit pelaksana lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(7) Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya, tugas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 62&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretaris Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretaris Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 63 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 34 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 63&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur selaku wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3), dilaksanakan oleh Dinas Propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 64&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Penyelenggaraan bidang pemerintahan yang menjadi wewenang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, dilakukan oleh instansi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;vertikal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pembentukan, susunan organisasi, formasi, dan tata laksananya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 65&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 66&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Kecamatan disebut Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bupati/Walikota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pembentukan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 35 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 67&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kelurahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Kelurahan disebut Lurah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Walikota/Bupati atas usul Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Lurah bertanggung jawab kepada Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 68&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEPALA DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 69&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penjabaran ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 36 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 70&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah lain dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 71&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;paksaan penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5.000.000,00 (lima juta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah, kecuali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 72&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan lain yang berlaku, Kepala Daerah menetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keputusan Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Keputusan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak boleh bertentangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan kepentingan umum, peraturan daerah, dan peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 73 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 37 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 73&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai kekuatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 74&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEPEGAWAIAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 75&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Norma, standar, dan prosedur mengenai pengangkatan, pemindahan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemberhentian, penetapan pensiun, gaji, tunjangan, kesejahteraan, hak, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewajiban, serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pegawai Negeri Sipil Daerah, ditetapkan dengan peraturan perundangundangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 76&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan, pemindahan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemberhentian, penetapan pensiun, gaji, tunjangan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 38 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan kesejahteraan pegawai, serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 77&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepegawaian dan karir pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEUANGAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 78&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Penyelenggaraan tugas Pemerintah Daerah dan DPRD dibiayai dari dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 79&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumber pendapatan Daerah terdiri atas:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. pendapatan asli Daerah, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1) hasil pajak Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2) hasil retribusi Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3) hasil perusahaan milik Daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang dipisahkan; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4) lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. dana ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 39 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. dana perimbangan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. pinjaman Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. lain-lain pendapatan Daerah yang sah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 80&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dana perimbangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79, terdiri atas:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan penerimaan dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumber daya alam;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. dana alokasi umum; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. dana alokasi khusus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perdesaan, perkotaan, dan perkebunan serta Bea Perolehan Hak Atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tanah dan Bangunan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diterima langsung oleh Daerah penghasil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, diterima oleh Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ayat (3), ditetapkan dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 81 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 40 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 81&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemerintah Daerah dapat melakukan peminjaman dari sumber dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan dengan persetujuan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus mendapatkan persetujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Tata cara peminjaman, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 82&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pajak dan retribusi Daerah ditetapkan dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 83&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah, Pemerintah memberi insentif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;fiskal dan nonfiskal tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 84 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 41 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 84&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan dan pembentukannya diatur dengan Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 85&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak dapat digadaikan, dibebani hak tanggungan, dan/atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dipindahtangankan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tentang:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. penghapusan tagihan Daerah sebagian atau seluruhnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 86&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pendapatan dan Belanja Negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pedoman ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 42 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pedoman tentang penyusunan, perubahan, dan perhitungan Anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten/Kota dan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Propinsi untuk diketahui.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pedoman tentang pengurusan, pertanggungjawaban, dan pengawasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Belanja Daerah, pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyusunan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IX&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KERJA SAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 87&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerja sama antar-Daerah yang diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan keputusan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama Antardaerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan keputusan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Keputusan bersama dan/atau badan kerja sama, sebagaimana dimaksud&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), yang membebani masyarakat dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah harus mendapatkan persetujuan DPRD masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 88 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 43 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 88&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling meng-untungkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan lembaga/badan di luar negeri, yang diatur dengan keputusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersama, kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 7.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Tata cara, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 89&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Perselisihan antar-Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;musyawarah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1), terdapat salah satu pihak yang tidak menerima&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keputusan Pemerintah, pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Mahkamah Agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB X&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KAWASAN PERKOTAAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 90&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota, perlu ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kawasan Perkotaan yang terdiri atas :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pemba-ngunan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Kawasan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 44 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial, ekonomi, dan fisik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkotaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 91&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kawasan Perkotaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten, dapat dibentuk Badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengelola Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Ketentuan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dan hal-hal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 92&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan, Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pengikutsertaan masyarakat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkotaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XI ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 45 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DESA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pembentukan, Penghapusan, dan/atau Penggabungan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 93&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Desa dapat dibentuk, dihapus, dan/atau digabung dengan memperhatikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan Desa, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 94&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa, yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merupakan Pemerintahan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 95&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain dan perangkat Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi syarat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terbanyak, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan oleh Badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 96 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 46 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 96&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Masa jabatan Kepala Desa paling la ma sepuluh tahun atau dua kali masa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 97&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia dengan syarat-syarat:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, G30S/PKI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau berpengetahuan yang sederajat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. sehat jasmani dan rohani;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. berkelakuan baik, jujur, dan adil;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;i. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;j. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempunyai kekuatan hukum tetap;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;k. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;l. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;m. memenuhi ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 47 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;m. memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 98&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sebelum memangku jabatannya, Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;"Demi Allah (Tuhan), saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya; bahwa saya akan selalu taat dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengamalkan dan memperta-hankan Pancasila sebagai dasar negara; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berlaku bagi Desa, Daerah, dan Negara Kesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 99&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan Desa mencakup :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. kewenangan yang oleh peraturan perundang-perundangan yang berlaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Tugas Pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan/atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Kabupaten.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 100 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 48 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 100&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tugas Pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan/atau Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta sumber daya manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 101&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. membina kehidupan masyarakat Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. membina perekonomian Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kuasa hukumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 102&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;101, Kepala Desa :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 103&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kepala Desa berhenti karena :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. meninggal dunia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. tidak ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 49 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/ janji;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berkembang dalam masyarakat Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pemberhentian Kepala Desa, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Perwakilan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 104&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengayomi adat istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyalurkan aspirasi masyarakat, serta melakukan pengawasan terhadap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan Pemerintahan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 105&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang memenuhi persyaratan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pelaksanaan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 50 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lembaga Lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 106&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan dengan Peraturan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Kelima&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Keuangan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 107&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. pendapatan asli Desa yang meliputi :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1) hasil usaha Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2) hasil kekayaan Desa;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3) hasil swadaya dan partisipasi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4) hasil gotong royong; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diterima oleh Pemerintah Kabupaten;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. sumbangan dari pihak ketiga; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. pinjaman Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sumber ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 51 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Sumber pendapatan Desa, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikelola&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kepala Desa bersama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Bupati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Tata cara dan pungutan objek pendapatan dan belanja Desa ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 108&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundangundangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bagian Keenam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kerja Sama Antardesa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 109&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang diatur dengan keputusan bersama dan diberitahukan kepada Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Untuk pelaksanaan kerja sama, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dapat dibentuk Badan Kerja Sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 110 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 52 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 110&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukim-an, industri, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 111&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pengaturan lebih lanjut mengenai Desa ditetapkan dalam Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kabupaten, sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah berdasarkan undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Peraturan Daerah, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengakui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan menghormati hak, asal-usul, dan adat istiadat Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBINAAN DAN PENGAWASAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 112&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam rangka pembinaan, Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonomi Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 113&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam rangka pengawasan, Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 114 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 53 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 114&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diberitahukan kepada Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatal-an Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan Keputusan Kepala Daerah, sebagai-mana dimaksud pada ayat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2), Peraturan Daerah atau Kepu-tusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pelaksanaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan Keputusan Kepala Daerah, sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2), dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengajukannya kepada Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 115&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan kepada Presiden mengenai:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. pembentukan, penghapusan, penggabungan, dan pemekaran Daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. perimbangan keuangan Pusat dan Daerah; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. kemampuan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 54 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. kemampuan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melaksanakan kewenangan tertentu, sebagaimana dimak-sud dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri atas Menteri Dalam Negeri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menteri Keuangan, Menteri Sekretaris Nega-ra, menteri lain sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan kebutuhan, perwakilan Asosi-asi Pemerintah Daerah, dan wakilwakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah yang dipilih oleh DPRD .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;satu kali dalam enam bulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 116&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Kepala Sekretariat yang membawahkan Bidang Otonomi Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN LAIN-LAIN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 117&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta, karena kedudukannya diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tersendiri dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 118 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 55 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 118&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, kecuali ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain oleh peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 119&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud dalam Pasal 11, berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam Daerah Otonom, yang meliputi badan otorita, kawasan pelabuhan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kawasan bandar udara, kawasan perumahan, kawasan industri, kawasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkebunan, kawasan pertambangan, kawasan kehutanan, kawasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pariwisata, kawasan jalan bebas hambatan, dan kawasan lain yang sejenis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pengaturan lebih lanjut, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 120&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Susunan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 56 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Susunan organisasi, formasi, kedudukan, wewenang, hak, tugas, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 121&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I, Kabupaten Daerah Ting- kat II, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kotamadya Daerah Tingkat II, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 5 Tahun 1974, berubah masing-masing menjadi Propinsi, Kabupaten, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 122&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Istimewa Yogyakarta, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tahun 1974, adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Istimewa Yogyakarta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;didasarkan pada undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 123&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan Daerah, baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XV ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 57 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 124&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pada saat berlakunya undang-undang ini nama, batas, dan ibukota Propinsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Tingkat I, Daerah Istimewa, Kabupaten Daerah Tingkat II, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kotamadya Daerah Tingkat II, sebagaimana dimaksud dalam peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan, adalah tetap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 125&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kotamadya Batam, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak Jaya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten Mimika, Kabupaten Simeulue, dan semua Kota Administratif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5 undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ini, Kotamadya, Kabupaten, dan Kota Admi-nistratif, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (1), sudah harus berubah statusnya menjadi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Kotamadya, Kabupaten, dan Kota Administratif, sebagaimana dimaksud&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada ayat (1), dapat dihapus jika tidak memenuhi ketentuan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 126 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 58 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 126&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kecamatan, Kelurahan, dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan, Kelurahan, dan Desa atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang disebut dengan nama lain, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;huruf m, huruf n, dan huruf o undang-undang ini, kecuali ditentukan lain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya, Kotamadya Administratif,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada saat mulai berlakunya undang-undang ini ditetapkan sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kelurahan, sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 127&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan undang-undang ini, seluruh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;instruksi, petunjuk, atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan undang-undang ini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dinyatakan tetap berlaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 128&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bupati Kepala Daerah Tingkat II, Walikota-madya Kepala Daerah Tingkat II,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II, Wakil Walikotamadya Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tingkat II, Bupati, Walikotamadya, Walikota, Camat, Lurah, dan Kepala Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;beserta perangkatnya yang ada, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 5 Tahun 1974 dan Undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 59 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang Nomor 5 Tahun 1979, pada saat mulai berlakunya undang-undang ini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tetap menjalankan tugasnya, kecuali ditentukan lain berdasarkan undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 129&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini, Lembaga Pembantu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gubernur, Pembantu Bupati, Pembantu Walikotamadya, dan Badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pertimbangan Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 5 Tahun 1974, dihapus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, serta agama,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, menjadi perangkat Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksud pada ayat (2), kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 130&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masa jabatan Kepala Daerah, jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masa jabatan Kepala Daerah, masa jabatan Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XVI ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 60 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XVI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 131&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pada saat berlakunya undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku lagi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lembaran Negara Nomor 3037);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 3153).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 132&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut undang-undang ini sudah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak undang-undang ini ditetapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pelaksanaan undang-undang ini dilakukan secara efektif selambatlambatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 133&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesuai dengan undang-undang ini, diadakan penyesuaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 134&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Agar ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 61 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Disahkan di Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada tanggal 7 Mei 1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ttd&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada tanggal 7 Mei 1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ttd&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;AKBAR TANDJUNG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 60&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SEKRETARIAT KABINET RI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Biro Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perundang-undangan II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Plt.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Edy Sudibyo)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENJELASAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NOMOR 22 TAHUN 1999&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TENTANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMERINTAHAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;I. UMUM&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1. Dasar Pemikiran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam penyelenggaraan pemerintahan, dengan memberikan kesempatan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Karena itu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, antara lain, menyatakan bahwa pembagian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk dan susunan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam penjelasan pasal tersebut, antara lain, dikemukakan bahwa "oleh karena&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat, maka Indonesia tidak akan mempunyai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. Daerah Indonesia akan dibagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kecil. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka, semuanya menurut aturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang akan ditetapkan dengan Undang-Undang". Di daerah-daerah yang bersifat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. Oleh karena itu, di daerah pun,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Dengan demikian, Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 2 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah, sebagaimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tertuang dalam Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonomi Daerah; Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Undang-undang ini disebut "Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah" karena&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. Sesuai dengan Ketetapan MPR-RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Di samping itu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;demokrasi, peran-serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta memperhatikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;potensi dan keanekaragaman Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peran-serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat Daerah. Oleh karena itu, undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, yang dalam Undang-undang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 3 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi, yang melaksanakan kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Daerah Propinsi bukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;demikian, Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempunyai hubungan hierarki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. Pemberian kedudukan Propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kota; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;h. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penekanan pada otonomi yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lebih ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 4 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lebih merupakan kewajiban daripada hak, maka dalam undang-undang ini pemberian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecuali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Pemerintah. Di samping itu keleluasan otonomi mencakup pula&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pelaksanaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ada dan diperlukan serta tumbuh, hidup, dan berkembang di Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa peningkatan pelayanan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keadilan, dan pemerataan, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Daerah serta antar-Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonomi ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 5 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lintas Kabupaten dan Kota, dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, serta kewenangan bidang pemerintahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tertentu lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;i. Atas dasar pemikiran di atas, prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dijadikan pedoman dalam Undang-undang ini adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan Daerah Kota, sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;otonomi yang terbatas;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pelaksanaan otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Otonom, dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lagi Wilayah Administrasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pihak lain, seperti badan otorita, kawasan pelabuhan, kawasan perumahan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kawasan industri, kawasan perkebunan, kawasan pertambangan, kawasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kehutanan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kawasan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 6 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kawasan perkotaan baru, kawasan pariwisata, dan semacamnya berlaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ketentuan peraturan Daerah Otonom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;badan legislatif Daerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;fungsi anggaran atas penyeleng-gaaraan Pemerintahan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(7) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(8) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Daerah, tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada yang menugaskannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2. Pembagian Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokokpokok&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pikiran sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pemba-gian kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Propinsi, sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adalah Daerah Kabupaten&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 7 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Daerah Kota. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;aspirasi masyarakat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Pembagian Daerah di luar Daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan demikian, Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Administrasi dalam rangka dekonsentrasi, menurut undang-undang ini kedudukannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. digunakannya asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kabupaten dan Daerah Kota; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi, Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten, Daerah Kota dan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;4. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan meningkatkan pertanggung-jawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. Oleh karena&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;itu hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;aspirasi ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 8 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;5. Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Untuk menjadi Kepala Daerah, seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memiliki etika dan moral, berpengetahuan, dan berkemampuan sebagai pimpinan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan, berwawasan kebangsaan, serta mendapatkan kepercayaan rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Daerah di samping sebagai pimpinan pemerintahan, sekaligus adalah Pimpinan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bertindak, dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa, negara, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat umum daripada kepentingan pribadi, golongan, dan aliran. Oleh karena itu, dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kelompok atau etnis, dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bijaksana, jujur, adil, dan netral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;6. Pertanggungjawaban Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah, Gubernur bertanggung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jawab kepada DPRD Propinsi, sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah, Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. Sementara itu, dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, Bupati atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembinaan dan pengawasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;7. Kepegawaian ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 9 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;7. Kepegawaian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya, baik pengangkatan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penempatan, pemindahan, dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perundang-undangan. Mutasi antar-Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Propinsi diatur oleh Gubernur, sedangkan mutasi antar-Daerah Propinsi diatur oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah. Mutasi antar-Daerah Propinsi dan/atau antar-Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kota atau antara Daerah Propinsi dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;8. Keuangan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri, yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintahan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melekat pada setiap kewenangan pemerintahan menjadi kewenangan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;9. Pemerintahan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Desa berdasarkan Undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 10 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang ber-sifat istimewa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi, dan pemberdayaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Kepala Desa bertanggung jawab pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Bupati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum publik maupun hukum perdata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memiliki kekayaan, harta benda, dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengadilan. Untuk itu, Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perjanjian yang saling menguntungkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Sebagai perwujudan demokrasi, di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersangkutan, yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pelaksanaan Peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Keputusan Kepala Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Desa. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemberdayaan masyarakat Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Desa ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 11 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa, bantuan Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Pemerintah Daerah, pendapatan lain-lain yang sah, sumbangan pihak ketiga dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pinjaman Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(7) Berdasarkan hak asal-usul Desa yang bersangkutan, Kepala Desa mempunyai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berada di dalam Daerah Kabupaten dan/atau Daerah Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;10. Pembinaan dan Pengawasan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;upaya pemberdayaan Daerah Otonom, sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. Karena itu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dahulu oleh pejabat yang berwenang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 1&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 12 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang Dasar 1945.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kerja sama, dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. Sementara itu, dalam kedudukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagai Wilayah Administrasi, Gubernur selaku wakil Pemerintah melakukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 13 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Untuk menentukan batas dimaksud, setiap Undang-undang mengenai pembentukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah yang bersangkutan, demikian pula mengenai perubahan batas Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Daerah/Gubernur, Daerah/Gubernur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempunyai ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 14 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan, perijinan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sesuai dengan standar, norma, dan kebijakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan di bidang pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, dan perkebunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. pelatihan bidang tertentu, alokasi sumber daya manusia potensial, dan penelitian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang mencakup wilayah Propinsi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. pengelolaan pelabuhan regional;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. pengendalian lingkungan hidup;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;e. promosi dagang dan budaya/pariwisata;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;f. penanganan penyakit menular dan hama tanaman; dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;g. perencanaan tata ruang propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten dan Daerah Kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 15 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam, sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;daya buatan, dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan diberlakukannya undang-undang ini, pada dasarnya seluruh kewenangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif, tetapi dilakukan melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengakuan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;otonominya, untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dasar kepada masyarakat, Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini, sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kondisi Daerah masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 16 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan, antara lain,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemadam kebakaran, kebersihan, pertamanan, dan tata kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah, DPRD bukan merupakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bagian dari Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 17 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Propinsi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf e&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf f&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf g&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf h&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 19&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 18 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lingkungan kerja DPRD bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 21&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 25&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 26&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 19 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 29&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 30&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 33&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 34&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dipilih secara berpasangan. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 20 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (5)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 35&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemilihan Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 38&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden, karena&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 21 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diberitahukan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 39&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 40&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 41&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 42&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DPRD atau di gedung lain, dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Pengucapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah, yakni :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kristen Protestan/Katolik;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. diawali ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 22 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Buddha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 43&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf e&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat, Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemasaran, pengembangan teknologi, produksi, dan pengolahan serta pembinaan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengembangan sumber daya manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf f&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf g ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 23 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf g&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 44&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 45&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 46&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 47&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 48&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a dan huruf e&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b, huruf c, dan huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, antara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain, yang berwujud korupsi, kolusi, dan nepotisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 49&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 50 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 24 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 50&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 51&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 52&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 53&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tembusannya dikirimkan kepada Presiden, sedangkan berakhirnya masa jabatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bupati/Walikota, tembusannya dikirimkan kepada Gubernur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 54&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 55&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 56 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 25 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 56&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengucapan sumpah/ja nji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Gedung DPRD atau di gedung lain, dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah, yakni :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kristen Protestan/Katolik;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Buddha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (5)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (6)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 57&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 58 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 26 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 58&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 59&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 60&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 61&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 62&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 63&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 64&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 65&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Badan Perencanaan, Lembaga Pengawasan, Badan Pendidikan dan Pelatihan, dan lainlain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 66&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 67 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 27 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 67&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam proses pengangkatan Lurah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (5)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (6)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 68&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 69&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditandatangani-serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 70&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sama kecuali untuk perubahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 71 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 28 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 71&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemeliharaan hukum”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;meniadakan, mencegah, melakukan, atau memperbaiki segala sesuatu yang telah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dibuat, diadakan, dijalankan, dialpakan, atau ditiadakan yang bertentangan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada pelanggar. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya, diambil suatu tindakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;paksaan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. Paksaan penegakan hukum itu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesuai dengan berat pelanggaran, karena paksaan tersebut pada umumnya dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menimbulkan kerugian atau penderitaan. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkembangan tingkat kemahalan hidup.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 72&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 73&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengatur dilakukan menurut cara yang sah, yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merupakan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 29 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Pengundangan dimaksud kecuali&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah oleh Sekretaris Daerah. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan Keputusan Kepala Daerah, peraturan dan keputusan tersebut perlu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimasyarakatkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 74&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 75&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 76&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemindahan pegawai antar-Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan Bupati/Walikota, dan pemindahan pegawai antar-Daerah Propinsi atau antara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 77 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 30 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 77&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 78&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 79&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angka 1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angka 2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angka 3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angka 4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan asset&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dan jasa giro.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya, dan penerimaan lain sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 80 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 31 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 80&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertambangan umum, pertambangan minyak dan gas bumi, kehutanan, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perikanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 81&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah, lembaga komersial, dan/atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peminjaman tersebut dilaksanakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 32 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah, yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lebih lanjut. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;termaksud.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 82&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan ketentuan Undang-undang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 83 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 33 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 83&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemudahan pembangunan prasarana, penyebaran lokasi industri strategis,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 84&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 85&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual, menggadaikan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menghibahkan, tukar guling, dan/atau memindahtangankan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 86&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 87 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 34 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 87&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 88&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 89&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 90&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 91&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 92&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menciptakan sinergi Pemerintah Daerah, masyarakat, dan pihak swasta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 35 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perencanaan, pelaksanaan, dan pemilikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 93&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nagari, kampung, huta, bori, dan marga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan asal-usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dalam pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan Desa perlu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dipertimbangkan luas wilayah, jumlah penduduk, sosial budaya, potensi Desa, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 94&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat Desa setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 95&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 36 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 96&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;budaya setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 97&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 98&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah, yakni :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kristen Protestan/Katolik;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;d. diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Buddha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 99 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 37 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 99&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 100&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 101&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf e&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa, Kepala Desa dapat dibantu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh lembaga adat Desa. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Desa bersifat mengikat pihak-pihak yang berselisih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf f&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 102&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 38 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 103&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf b&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf c&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf d&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Huruf e&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 104&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, dan Keputusan Kepala Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 105 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 39 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 105&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati, tetapi wajib disampaikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepadanya selambat-lambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 106&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 107&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;antara lain, dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa, kerja sama dengan pihak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ketiga, dan kewenangan melakukan pinjaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa, baik pajak maupun retribusi yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten, tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Pemerintah Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pendapatan ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 40 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. Ketentuan ini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dimaksudkan untuk menghilangkan beban biaya ekonomi tinggi dan dampak lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;setiap tahun meliputi penyusunan anggaran, pelaksanaan tata usaha keuangan, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perubahan serta perhitungan anggaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 108&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 109&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persetujuan Badan Perwakilan Desa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 110&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembangunan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 111&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 41 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan asal-usul adalah asal-usul terbentuknya Desa yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 112&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 113&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 114&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukan selambat-lambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dari Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 115 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 42 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 115&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mekanisme pembentukan, penghapusan, penggabungan, dan/atau pemekaran Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;a. Daerah yang akan dibentuk, dihapus, digabung, dan/atau dimekarkan diusulkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;b. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi, potensi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;daerah, sosial-budaya, sosial-politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan lain;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;c. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertim-bangan untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penghapusan, penggabungan, dan/atau pemekaran Daerah Otonom.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi, antar-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Kabupaten, dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dikeluarkan oleh Pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian, terutama di bidang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keuangan dan pemerintahan, serta bersikap independen sebanyak 6 orang, yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terdiri atas 2 orang wakil Daerah Propinsi, 2 orang wakil Daerah Kabupaten, dan 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;orang wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (3)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4) ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 43 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (4)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (5)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (6)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 116&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 117&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 118&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 119&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 120 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 44 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 120&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 121&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 122&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemerdekaan nasional, sedangkan isi keistimewaan-nya berupa pelaksanaan kehidupan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;beragama, adat, dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kebijakan Daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal-usul dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peranannya dalam sejarah perjuangan nasional, sedangkan isi keistimewaannya adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengangkatan Gubernur dengan mempertim-bangkan calon dari keturunan Sultan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 123&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 124&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 125&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 126 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 45 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 126&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 127&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 128&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 129&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 130&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 131&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 132&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (1)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ayat (2)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selesai dalam waktu dua tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 133 ...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;- 46 -&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 133&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 134&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Cukup jelas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3839&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-9004948761927897510?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/9004948761927897510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/9004948761927897510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2010/12/otonomi-daerah.html' title='otonomi daerah'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-2944424449195944958</id><published>2010-12-08T11:11:00.000+07:00</published><updated>2010-12-08T11:12:39.771+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SEKRETARIAT JENDERAL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANGUNDANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DALAM SATU NASKAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;SEKRETARIAT JENDERAL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANGUNDANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DALAM SATU NASKAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANGUNDANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;TAHUN 1945&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMBUKAAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;( P r e a m b u l e )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan perikemanusiaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan perikeadilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UNDANGUNDANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BENTUK DAN KEDAULATAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 1&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Negara Indonesia adalah negara hukum. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 2&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;umum dan diatur lebih lanjut dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tahun di ibu kota negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang terbanyak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 3&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Majelis Permusyawaratan Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden. ***/****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan Presiden&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar. ***/****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 4&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 5&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden berhak mengajukan rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagaimana mestinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati negara, serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mampu secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 6A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemilihan umum. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Presiden. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Tata cara pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden lebih lanjut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kali masa jabatan. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Konstitusi untuk memeriksa, mengadili, dan memutus pendapat Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau pendapat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden telah melakukan pelanggaran hukum tersebut ataupun telah tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden adalah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pengajuan permintaan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Mahkamah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Konstitusi hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2/3 dari jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang hadir dalam sidang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;paripurna yang dihadiri oleh sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2/3 dari jumlah anggota&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Mahkamah Konstitusi wajib memeriksa, mengadili, dan memutus dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;seadiladilnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terhadap pendapat Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lama sembilan puluh hari setelah permintaan Dewan Perwakilan Rakyat itu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diterima oleh Mahkamah Konstitusi. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden dan/atau Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perbuatan tercela; dan/atau terbukti bahwa Presiden dan/atau Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat menyelenggarakan sidang paripurna&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Majelis Permusyawaratan Rakyat wajib menyelenggarakan sidang untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memutuskan usul Dewan Perwakilan Rakyat tersebut paling lambat tiga puluh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hari sejak Majelis Permusyawaratan Rakyat menerima usul tersebut. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(7) Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul pemberhentian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden dan/atau Wakil Presiden harus diambil dalam rapat paripurna&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dihadiri oleh sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2/3 dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jumlah anggota yang hadir, setelah Presiden dan/atau Wakil Presiden diberi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna Majelis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Permusyawaratan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 7C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat.***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 8&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Jika Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewajibannya dalam masa jabatannya, ia digantikan oleh Wakil Presiden&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sampai habis masa jabatannya. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden, selambatlambatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;waktu enam puluh hari, Majelis Permusyawaratan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyelenggarakan sidang untuk memilih Wakil Presiden dari dua calon&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang diusulkan oleh Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Jika Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersamaan, pelaksana tugas kepresidenan adalah Menteri Luar Negeri,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan secara bersamasama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Selambatlambatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tigapuluh hari setelah itu, Majelis Permusyawaratan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat menyelenggarakan sidang untuk memilih Presiden dan Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diusulkan oleh partai polotik yang psangan calon Presiden dan Wakil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;umum sebelumnya, sampai akhir masa jabatannya. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 9&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menurut agama, atau berjanji dengan sungguhsungguh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dihadapan Majelis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sumpah Presiden (Wakil Presiden):&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“ Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaikbaiknya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;seadiladilnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memegang teguh UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar dan menjalankan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;segala undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan peraturannya dengan seluruslurusnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berbakti, kepada Nusa dan Bangsa”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Janji Presiden (Wakil Presiden) :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;“Saya berjanji dengan sungguhsungguh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;akan memenuhi kewajiban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebaikbaiknya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan seadiladilnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memegang teguh UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan menjalankan segala undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan peraturannya dengan seluruslurusnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa” . *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Jika Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dapat mengadakan sidang, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menurut agama, atau berjanji dengan sungguhsungguh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;di hadapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan disaksikan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pimpinan Mahkamah Agung. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 10&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angkatan Laut dan Angkatan Udara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 11&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;atau pembentukan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;harus dengan persetujuan Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 12&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan akibatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keadaan bahaya ditetapkan dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 13&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden mengangkat duta dan konsul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan menperhatikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 14&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan Mahkamah Agung. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 15&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden memberi gelar, tanda jasa, dan lainlain&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tanda kehormatan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 16&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dihapus. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB V&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEMENTERIAN NEGARA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 17&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Presiden dibantu oleh menterimenteri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Menterimenteri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian negara diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMERINTAH DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerahdaerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;provinsi dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiaptiap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;provinsi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembantuan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat Daerah yang anggotaanggotanya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dipilih melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemilihan umum. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Gubernur, Bupati dan Walikota masingmasing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagai Kepala Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluasluasnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kecuali urusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan yang oleh undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditentukan sebagai urusan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pemerintah Pusat. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;provinsi, kabupaten, dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dengan Undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan memperhatikan kekhususan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keragaman daerah. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfatan sumber daya alam dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 18B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Negara mengakui dan menghormati satuansatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;masyarakat hukum&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adat serta hakhak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Indonesia, yang diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 19&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Susunan Dewan Perwakilan rakyat diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Jika rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;itu tidak mendapat persetujuan bersama,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat masa itu. *)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Presiden mengesahkan rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang telah disetujui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersama untuk menjadi undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Dalam hal rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang telah disetujui bersama tersebut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu tiga puluh hari semenjak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tersebut disetujui, rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tersebut sah menjadi undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan wajib diundangkan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 20A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;fungsi pengawasan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam melaksanakan fungsinya, selain hak yang diatur dalam pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar ini, Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;interpelasi, hak angket, dan hak menyatakan pendapat. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Selain hak yang diatur dalam pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar ini,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai hak mengajukan pertanyaan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut tentang hak Dewan Perwakilan Rakyat dan hak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggota Dewan Perwakilan Rakyat diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 21&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan pemerintah sebagai pengganti undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat dalam persidangan yang berikut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dicabut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dapat diberhentikan dari jabatannya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan tata caranya diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIIA ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DEWAN PERWAKILAN DAERAH&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemilihan umum. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Dewan Perwakilan Daerah bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Susunan dan kedudukan Dewan Perwakilan Daerah diatur dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22D&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berkaitan dengan otonomi daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pusat dan daerah. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat atas rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggaran pendapatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan belanja negara dan rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berkaitan dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pajak, pendidikan, dan agama. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Dewan Perwakilan Daerah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengenai : otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diberhentikan dari jabatannya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan tata caranya diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIIB ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEMILIHAN UMUM&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 22E&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Pemilihan umum dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;jujur, dan adil setiap lima tahun sekali. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pemilihan umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat Daerah. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah partai politik. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Peserta pemilihan umum untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adalah perseorangan. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bersifat nasional, tetap, dan mandiri. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;HAL KEUANGAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesarbesarnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemakmuran rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Rancangan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggaran pendapatan dan belanja negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui rancangan anggaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pendapatan dan belanja negara yang diusulkan oleh Presiden, Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Halhal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain mengenai keuangan negara diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23D&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewenangan, tanggung jawab, dan independensinya diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB VIIIA ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BADAN PEMERIKSA KEUANGAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23E&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sesuai dengan kewenangannya. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan/atau badan sesuai dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23F&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diresmikan oleh Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan dipilih dari dan oleh anggota. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 23G&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Badan Pemeriksa Keuangan berkedudukan di ibu kota negara, dan memiliki&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perwakilan di setiap provinsi. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Pemeriksa Keuangan diatur dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IX&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEKUASAAN KEHAKIMAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Badanbadan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;diatur dalam undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;di bawah undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terhadap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hakim agung oleh Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta badan peradilan di bawahnya diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hakim. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 24C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terhadap UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara yang kewenangannya diberikan oleh UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hasil pemilihan umum. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Wakil Presiden menurut UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masingmasing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tiga orang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;orang oleh Presiden. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;konstitusi. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta tidak merangkap sebagai pejabat negara. ***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 25&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai hakim&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB IXA **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;WILAYAH NEGARA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 25A****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batasbatas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan hakhaknya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ditetapkan dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB X&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;WARGA NEGARA DAN PENDUDUK **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 26&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Yang menjadi warga negara ialah orangorang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bangsa Indonesia asli dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;orangorang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bangsa lain yang disahkan dengan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;warga negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tinggal di Indonesia. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Halhal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 27&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak ada kecualinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Tiaptiap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bagi kemanusiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XA **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;HAK ASASI MANUSIA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan kehidupannya. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melalui perkawinan yang sah. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negaranya. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28D&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang adil dan layak dalam hubungan kerja. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pemerintahan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28E&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;meninggalkannya, serta berhak kembali. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengeluarkan pendapat. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28F&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28G&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;politik dari negara lain. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28H&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pelayanan kesehatan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;persamaan dan keadilan. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh siapa pun. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dikurangi dalam keadaan apa pun. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang bersifat diskriminatif itu. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;perkembangan zaman dan peradaban. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 28J&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undangundang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;maksud sematamata&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan pertimbangan moral, nilainilai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;agama, keamanan, dan ketertiban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;umum dalam suatu masyarakat demokratis. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;A G A M A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 29&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Negara menjamin kemerdekaan tiaptiap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penduduk untuk memeluk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;agamanya masingmasing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan untuk beribadat menurut agamanya dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kepercayaannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 30&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Tiaptiap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertahanan dan keamanan negara. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan Kepolisian Negara Indonesia Republik Indonesia, sebagai kekuatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Tentara Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Angkatan Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melayani masyarakat, serta menegakkan hukum. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Susunan dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Republik Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kepolisian Negara Republik Indonesia di dalam menjalankan tugasnya,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;syaratsyarat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keikutsertaan warga negara dalam usaha pertahanan dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keamanan diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIII&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 31&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;wajib membiayainya. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;penyelenggaraan pendidikan nasional. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjunjung tinggi nilainilai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;peradaban serta kesejahteraan umat manusia. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 32&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengembangkan nilainilai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;budayanya. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;budaya nasional. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XIV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PEREKONOMIAN NASIONAL DAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KESEJAHTERAAN SOSIAL****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 33&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kekeluargaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Cabangcabang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;kemakmuran rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 34&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Fakir miskin dan anakanak&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terlantar dipelihara oleh negara. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;martabat kemanusiaan. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan fasilitas pelayanan umum yang layak. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XV&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA , SERTA&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;LAGU KEBANGSAAN **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 35&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36A&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tunggal Ika. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36B&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya. **)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 36C&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undangundang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;BAB XVI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;PERUBAHAN UNDANGUNDANG&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DASAR&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal 37&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(1) Usul perubahan pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar dapat diagendakan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Rakyat. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(2) Setiap usul perubahan pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar diajukan secara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;beserta alasannya. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(3) Untuk mengubah pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar, sidang Majelis&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Permusyawaratan Rakyat dihadiri sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;2/3 dari jumlah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(4) Putusan untuk mengubah pasalpasal&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar dilakukan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dengan persetujuan sekurangkurangnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;limapuluh persen ditambah satu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;anggota dari seluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;(5) Khusus mengenai bentuk negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dilakukan perubahan. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ATURAN PERALIHAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Segala peraturan perundangundangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang ada masih tetap berlaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;selama belum diadakan yang baru menurut UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar ini. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Semua lembaga negara yang ada masih tetap berfungsi sepanjang untuk&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;melaksanakan ketentuan UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar dan belum diadakan yang baru&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menurut UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar ini. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mahkamah Konstitusi dibentuk selambatlambatnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;pada 17 Agustus 2003&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan sebelum dibentuk segala kewenangannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*) : Perubahan Pertama&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;**) : Perubahan Kedua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***) : Perubahan Ketiga&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****) : Perubahan Keempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ATURAN TAMBAHAN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal I&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;terhadap materi dan status hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;putusan pada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 2003. ****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pasal II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dengan ditetapkannya perubahan UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar ini, UndangUndang&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan pasalpasal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;_________&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-2944424449195944958?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/2944424449195944958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/2944424449195944958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2010/12/perubahan-pertama-perubahan-kedua.html' title=''/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-4989117068685659848</id><published>2010-12-08T10:58:00.001+07:00</published><updated>2010-12-08T11:01:23.265+07:00</updated><title type='text'>republik indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; "&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;Undang-Undang Dasar 1945&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan diproklamirkan, UUD 1945 disahkan. Di dalam UUD 1945 itu diawali dengan  Pembukaan” dan pada alinea 4 diterangkan bahwa Negara Indonesia berdasarkan PANCASILA yang berbunyi sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;1. KetuhananYang Maha Esa.&lt;br /&gt;2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.&lt;br /&gt;3. Persatuan Indonesia.&lt;br /&gt;4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwaki Ian.&lt;br /&gt;5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;Disamping itu pula di dalam batang tubuh UUD 1945 diterangkan bahwa:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;a. Nama negara kita : Republik Indonesia&lt;br /&gt;b. Bentuk negara kita : Negara Kesatuan&lt;br /&gt;c. Bentukpemerintahan : Demokrasi (Kerakyatan) yang berarti : pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.&lt;br /&gt;d. Kepala Negara : Presiden yang dipilih rakyat.&lt;br /&gt;e. Badan Perwakilan Rakyat yang Tinggi : Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).&lt;br /&gt;f. Bendera Negara : Sang Merah Putih&lt;br /&gt;g. Bahasa Nasional : Bahasa Indonesia&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;UUD 1945 terdiri dari :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;a. Pembukaan UUD 1945, terdiri dari empat alinea dan pada alinea keempat terdapat dasar negara Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-1265"&gt;&lt;/span&gt;b. Batang Tubuh UUD 1945, terdiri dari 16 bab, 37 pasal, 4 pasal aturan peralihan, dan 2 ayat aturan tambahan.&lt;br /&gt;c. Penjelasan Resmi UUD 1945 yang terdiri dari penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal.&lt;br /&gt;d. Amandemen UUD 1945&lt;br /&gt;- Amandemen ke I ST MPR Tahun 1999&lt;br /&gt;- Amandemen ke II ST MPR Tahun 2000&lt;br /&gt;- Amandemen ke III ST MPR Tahun 2001&lt;br /&gt;- Amandemen ke IV ST MPR Tahun 2002&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;Lagu Kebangsaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Lagu Kebangsaan Negara kita adalah “Indonesia Raya” yang diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman. Lagu ini dinyanyikan secara resmi yang pertama kali adalah pada penutupan Kongres Pemuda Indonesia II di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;Lambang Negara&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Lambang Negara Republik Indonesia adalah “Garuda Pancasila” yang diresmikan dalam Sidang Dewan RIS tanggal 11 Pebruari 1950. Lambang negara tersebut berupa gambar burung Garuda yang sayapnya membentang ke kanan dan ke kiri, dan pada leher burung Garuda itu tergantung perisai yang melambangkan dasar negara Republik Indonesia yaitu “PANCASILA”.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;Adapun gambar-gambar yang ada pada perisai tersebut adalah :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;a. Sila I dilambangkan gambar bintang.&lt;br /&gt;b. Sila II dilambangkan rantai emas.&lt;br /&gt;c. Sila III dilambangkan pohon beringin.&lt;br /&gt;d. Sila IV dilambangkan kepala banteng.&lt;br /&gt;e. Sila V dilambangkan padi dan kapas.&lt;br /&gt;f. Garis melintang mendatar melambangkan garis katulistiwa yang melintang ditengah-tengah kepulauan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Pada pita terdapat tulisan yang berbunyi “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Adapun yang dimaksud adalah bahwa bangsa Indonesia itu berbeda-beda tempat tinggalnya karena berada di berbagai pulau, sehingga berbeda pula bahasanya, adat-istiadatnya, suku dan juga agamanya. Walaupun demikian tetapi juga satu yaitu bangsa Indonesia. Adapun untuk gambar burung garuda itu sendiri mempunyai arti sebagai berikut:&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;a. Sayapnya, bulunya berjumlah 17 bulu dan melambangkan tanggal 17.&lt;br /&gt;b. Ekornya, bulunya berjumlah 8 bulu dan melambangkan bulan 8 atau Agustus.&lt;br /&gt;c. Bulu di bawah perisai berjumlah 19 helai dan bulu-bulu di bawah lehernya berjumlah 45 helai.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Dengan demikian kesemuanya tersebut adalah merupakan maknaperingatan pada tanggal 17 Agustus 1945.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;strong&gt;7 Kunci Pokok Sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 adalah :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;1. Indonesia ialah negara berdasarkan hukum.&lt;br /&gt;2. Sistem konstitusional.&lt;br /&gt;3. Kekuasaan negara yang tertinggi berada di tangan MPR.&lt;br /&gt;4. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi di bawah MPR.&lt;br /&gt;5. Presiden tidak bertanggung j awab kepada DPR.&lt;br /&gt;6. Menteri Negara ialah pembantu Presiden. Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR.&lt;br /&gt;7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.&lt;br /&gt;F. Pemerintahan Daerah&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Pemerintahan di Daerah, pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan di daerah diwajibkan melaksanakan asas desentralisasi, asas dekonsentrasi, dan asas tugas pemban titan. Pengertian-pengertian yang diberikan UU No. 5 tahun 1974 sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta pembantu-pembantunya.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;2. Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintahan dari Pemerintah atau Daerah tingkat atasnya kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;3. Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;4. Tugas Pembantuan adalah tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Desa oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;5. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang, dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yangberlaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;6. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah atau Kepala Wilayah atau Kepala Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada Pejabat-Pejabat di daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;7. Wilayah Administratip, selanjutnya disebut Wilayah, adalah lingkungan kerja perangkat Pemerintah yang menyelenggarakan pelaksanaan tugas pemerintahan umum di daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;8. Instansi Vertikal adalah perangkat dari Departemen-Departemen atau Lembaga-lembaga Pemerintah bukan Departemen yang mempunyai lingkungan kerja di Wilayah yang bersangkutan.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;9. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang berwenang mensahkan, membatalkan, dan menangguhkan Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah, yaitu Menteri Dalam Negeri bagi Daerah Tingkat I dan Gubemur Kepala Daerah bagi Daerah Tingkat II, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;10. Urusan pemerintahan umum adalah urusan pemerintahan yangmeliputi bidang-bidang ketentraman dan ketertiban, politik, koordinasipengawasan dan urusan pemerintahan lainnya yang tidaktermasuk dalam tugas sesuatu Instansi dan tidak termasuk urusan rumah tangga Daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;11. Polisi Pamong Praja adalah perangkat Wilayah yang bertugas membantu Kepala Wilayah dalam menyelenggarakan pemerintahan khusunya dalam melaksanakan wewenang, tugas, dan kewajiban dibidang pemerintahan umum.&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;a href="http://syadiashare.com/" title="syadiashare" target="_blank" style="color: rgb(204, 0, 0); text-decoration: none; outline-style: none; outline-width: initial; outline-color: initial; "&gt;syadiashare 2009&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="color: rgb(51, 51, 51); margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 12px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; font-size: 12px; line-height: 18px; text-align: justify; "&gt;sumber: &lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; line-height: normal; font-size: 16px; "&gt;&lt;a href="http://syadiashare.com/uud-45-dan-sistem-pemerintahan-ri.html"&gt;http://syadiashare.com/uud-45-dan-sistem-pemerintahan-ri.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-4989117068685659848?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/4989117068685659848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/4989117068685659848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2010/12/republik-indonesia.html' title='republik indonesia'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-7013433810200212503</id><published>2010-12-08T10:31:00.000+07:00</published><updated>2010-12-08T10:32:23.074+07:00</updated><title type='text'>Sejarah / Asal-usul Nama Indonesia</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title" style="margin-top: 0.25em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 0px; font-size: 18px; font-weight: normal; line-height: 1.4em; color: rgb(153, 153, 153); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; "&gt;&lt;a href="http://blog-sejarah.blogspot.com/2010/02/sejarah-asal-usul-nama-indonesia.html" style="text-align: justify;color: rgb(153, 153, 153); text-decoration: none; display: block; font-weight: bold; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1" style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center; color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;a href="http://politikana.com/images/medium/7160-peta-indonesia.jpg" imageanchor="1" style="text-align: justify;color: rgb(153, 153, 153); text-decoration: underline; clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; "&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://politikana.com/images/medium/7160-peta-indonesia.jpg" width="200" style="border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; padding-top: 4px; padding-right: 4px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(76, 76, 76); border-right-color: rgb(76, 76, 76); border-bottom-color: rgb(76, 76, 76); border-left-color: rgb(76, 76, 76); " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;b&gt;Tahukah sobat, bagaimana sih negara kita kok lantas dinamakan Indonesia? Bagaimana sejarah/asal-usul nama Indonesia? Berikut ini sejarahnya.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Nan-hai&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Dwipantara&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;dwipa&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (pulau) dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;antara&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Suwarnadwipa&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut tanah air kita &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Jaza'ir al-Jawi&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;benzoe&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, berasal dari bahasa Arab &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;luban jawi&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Styrax sumatrana&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;kulluh Jawi&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (semuanya Jawa).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Hindia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Kepulauan Hindia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;" (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indische Archipel&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indian Archipelago&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;l'Archipel Indien&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;) atau "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Hindia Timur&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;" (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Oost Indie&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;East Indies&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indes Orientales&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;). Nama lain yang juga dipakai adalah "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Kepulauan Melayu&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;" (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Maleische Archipel&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Malay Archipelago&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;l'Archipel Malais&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Nederlandsch-Indie&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Hindia Belanda&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;To-Indo&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Hindia Timur).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Insulinde&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" ( Bahasa Latin &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;insula&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-weight: normal; font-size: 16px; "&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Nusantara&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada tahun 1920, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker ( 1879 – 1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Nusantara&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh JLA. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;antara&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; dalam Bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Jawadwipa&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;jahiliyah&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;antara&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-weight: normal; font-size: 16px; "&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;a distinctive name&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indunesia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; atau &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Malayunesia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;nesos&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;margin-left: 36pt; color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;"&lt;i&gt;... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians&lt;/i&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon ( Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Ethnology of the Indian Archipelago&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indian Archipelago&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indonesia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;margin-left: 36pt; color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;"&lt;i&gt;Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago&lt;/i&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Encyclopedie van Nederlandsch-Indie&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indonesische Pers-bureau&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Nama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;indonesisch&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt; (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-weight: normal; font-size: 16px; "&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Identitas Politik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Hindia Poetra&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;, berganti nama menjadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Indonesia Merdeka&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;margin-left: 36pt; color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (&lt;i&gt;de toekomstige vrije Indonesische staat&lt;/i&gt;) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; "&gt;Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: Georgia, serif; font-size: 16px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(102, 102, 102); font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, Verdana, sans-serif; font-size: 13px; "&gt;Republik Indonesia&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   &gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; font-style: italic; "&gt;sumber: &lt;a href="http://indonesiakemarin.blogspot.com/2007/09/asal-usul-nama-indonesia.html" style="color: rgb(153, 153, 153); text-decoration: none; "&gt;indonesia kemarin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-7013433810200212503?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/7013433810200212503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/7013433810200212503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2010/12/sejarah-asal-usul-nama-indonesia.html' title='Sejarah / Asal-usul Nama Indonesia'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-2275943171104418371</id><published>2010-12-04T09:12:00.001+07:00</published><updated>2010-12-04T09:12:42.497+07:00</updated><title type='text'>SISTEM KETATANEGARAAN PASCA REFORMASI</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;SISTEM KETATANEGARAAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PASCA REFORMASI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Oleh : Prof.   Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;SUMBER HUKUM TERTINGGI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pancasila dan UUD 1945 merupakan Dokumen Pemersatu. Sebagai warga masyarakat kita berbeda-beda, tetapi sebagai warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam hukum dan pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi yang harus tercermin dalam segala peraturan perundang-undangan dan kebijakan-kebijakan kenegaraan, dan harus ditegakkan sebagaimana mestinya dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Sekilas Sejarah Konstitusi Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UUD 1945&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Konstitusi RIS 1949&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UUDS NKRI 1950&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UUD 1945 Dekrit 5 Juli 1959, Orde Lama (Demokrasi Terpimpin) = Rule of Man&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Orde Baru (Demokrasi Pancasila) = Rule of Man&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perubahan UUD 1945&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perubahan substanial dan penyempurnaan 300%&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Dari Supremasi Institusi ke Supremasi Konstitusi, Rule of the Law &amp;amp; Constitution&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Dari Sistem Pembagian Kekuasaan ke Checks and Balances&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penguatan Sistem Presidentil&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Desentralisasi, Otonomi Daerah, dan Kebhinekaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penguatan Peradilan dan Pelembagaan Peradilan Konstitusi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PEMBUATAN DAN PELAKSANAAN KEBIJAKAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pembuatan Kebijakan (Policy Making)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pelaksanaan Kebijakan (Policy Executing)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peradilan atas Pembuatan Kebijakan (Judicial Review)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a. Peradilan atas Konstitutionalitas UU di MK&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b. Peradilan atas Legalitas Peraturan di bawah UU di MA.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peradilan atas Pelaksanaan Kebijakan (Peradilan):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a. Peradilan Umum:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Peradilan Pidana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Peradilan Perdata&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;c. Peradilan Agama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;d. Peradilan Tata Usaha Negara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;e. Peradilan Militer&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;BENTUK NORMA HUKUM PENUANGAN KEBIJAKAN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pengaturan (regelingen, regulations)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UUD 1945&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UU/PERPU/TAP-MPR/S&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UU disusun dan ditetapkan oleh DPR dg persetujuan bersama Presiden (dapat menjadi objek judicial review oleh MK atau legislative review oleh DPR)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perpu disusun dan ditetapkan oleh Presiden&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan meminta persetujuan DPR belakang, yaitu pada masa persidangan berikutnya (hanya dapat menjadi objek legislative review, dan tidak dapat dijadikan objek judicial review).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;TAP-MPR/S tersisa dan masih berlaku setara dengan UU sehingga dapat diubah dengan UU melalui legislative review, sedangkan melalui judicial review masih dapat diperdebatkan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan Pelaksana UU yang bersifat structural-hirarkis yang keberadaannya didasarkan atas prinsip delegasi atau sub-delegasi (&lt;i style=""&gt;legislative delegation of rule-making power&lt;/i&gt;), seperti: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PP&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perpres&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perda Provinsi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perda Kabupaten/Kota&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan Pelaksana UU yang bersifat fungsional-nonhrarkis yang keberadaannya didasarkan atas prinsip delegasi atau sub-delegasi (&lt;i style=""&gt;legislative delegation of rule-making power&lt;/i&gt;), seperti: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PERMA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PMK&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan KPU&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;PBI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan KPU &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perdasus dan Qanun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan Menteri tertentu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Peraturan Direktur Jenderal tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penetapan (beschikkings, administrative decisions)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keputusan Presiden&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keputusan Menteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;c.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keputusan Direktur Jenderal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;d.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keputusan Kepala LPND&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;e.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Putusan Pengadilan (vonnis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Putusan Pra-Peradilan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Putusan Pengadilan Tingkat Satu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;c.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Putusan Pengadilan Tingkat Dua&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;d.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Putusan Pengadilan Tingkat Tiga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;e.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Putusan Peninjauan Kembali (PK).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Aturan Kebijakan (Beleidsregels, Policy Rules)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Instruksi Presiden (Inpres)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Petunjuk Pelaksanaan (Juklak)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;c.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Petunjuk Teknis (Juknis)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;d.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buku Pedoman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;e.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manual&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;f.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kerangka Acuan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;g.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Rule of Ethics:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Code of Ethics dan Code of Conduct&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Institusi Penegak Kode Etik &amp;amp; Perilaku, seperti:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Komisi Yudisial, Komisi Kepolisian, dan Komisi Kejaksaan,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Dewan Kehormatan Komisi Pemilihan Umum,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Badan Kehormatan DPR, dan Badan Kehormatan DPD,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Majelis Kehormatan Mahkamah Agung,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;- Majelis Kehormatan Peradi, dsb.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;D.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;KELEMBAGAAN DAN HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Bagan Organisasi Utama (lihat buku Risalah MPR-MK) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Cabang Kekuasaan Eksekutif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Presiden dan Wakil Presiden (satu kesatuan institusi, single executive)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Wakil Presiden (i) membantu, (ii) mendampingi, (iii) mewakili untuk sementara, (iv) mewakili secara tetap, dan (v) kegiatan mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Menteri Kabinet&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;prinsip pembagian pekerjaan secara habis&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Puncak kepemimpinan adminisi pemerintsahan di bawah Presiden dan Wapres. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Semua lembaga independen dan cabang-cabang kekuasaan yang bersifat campuran serta lembaga-lembaga pemerintahan non-departemen harus dikoordinasikan oleh menteri yang berfungsi sebagai tameng dan payung politik dalam berhubungan dengan Presiden, DPR/DPD, dan lembaga peradilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Cabang Kekuasaan Legislatif (Legislature)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Dari supremasi institusi (MPR) ke supremasi konstitusi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pergeseran kekuasaan legislative dari Presiden ke DPR&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Problem perpu sebagai kewenangan legislasi oleh Presiden&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Konsep legislasi dalam arti luas: trikameralisme, satu institusi dengan tiga forum (kamar):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;MPR (lembaga membuat undang-undang dasar)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;DPR (lembaga penyalur aspirasi rakyat dalam rangka penyusunan kebijakan dan program serta pengawasan pelaksanaannya)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;DPD (mitra DPR dalam rangka penyaluran aspirasi konstituen dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Problem penggabungan pimpinan dan secretariat bersama&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;DPRD sebagai lembaga legislative atau bukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pimpinan dan anggota DPRD pejabat Negara atau bukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Cabang Kekuasaan Kehakiman (Judiciary)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Hakikat pengadilan sebagai cabang kekuasaan yang tersendiri dalam rangka tegaknya rule of law sebagai pengimbang demokrasi yang engagungkan kebebasan untuk kesejahteraan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;MK (the guardian of the constitution)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;MA (the guardian of the state’s law)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;BPK (&lt;i style=""&gt;state’s auditor&lt;/i&gt;) (bercorak semi-judikatif dalam menunjang fungsi legislative)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Lembaga-Lembaga Independen&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;KY&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;KPU&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Tentara Nasional Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Kepolisian&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Kejaksaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Bank Sentral&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;KPK&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Komisi-Komisi yang diatur UU (Komnasham, Komisi Ombudsman, Komisi Penyiaran Indonesa, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, dan lain-lain sebagainya). Sekarang berjumlah tidak kurang dari 50 buah. Usul kepada anggota DPR untuk menghentikan kreatifitas membuat lembaga2 baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Hubungan antara Eksekutif dan Legislatif&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penyusunan kebijakan dalam bentuk undang-undang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penyusunan anggaran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pengawasan/kontrol politik atas pelaksanaan kebijakan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Dalam bentuk peraturan-peraturan pelaksanaan (executive acts).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Dalam bentuk tindakan-tindakan pelaksanaan (executive actions).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pengawasan/kontrol politik atas pelaksanaan anggaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;MK dan Hubungan antara Lembaga&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pengawal konstitusi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pengawal demokrasi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;‘arbitrase’ konstitusional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pelindung hak konstitusional warga Negara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penafsir akhir atas UUD (Final interpreter of the constitution)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Independensi Peradilan dan Penegakan Hukum&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Kekuasaan kehakinan: independensi structural dan fungsional&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pejabat dan lembaga penegak hukum:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Hakim (pengadilan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penuntut (kejaksaan dan KPK)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penyidik (Polisi dan PPNS)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Pembela (Advokat)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Lembaga Pemasyarakatan (LP)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;E.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;TATA-KELOLA YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; sebagai Negara Pengurus (Welfare State)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Sepuluh Prinsip Good Governance&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;a. Tegaknya rule of law&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;b. Efisiensi dan Efektifitas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;c. Terbukanya Partisipasi Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;d. Transparansi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;e. Akuntabilitas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;f. Responsive&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;g. Kesetaraan (Equality)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;h. Beorientasi ke depan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;i. Berjalannya fungsi pengawasan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;j. Profesionalisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;k. Efisiensi dan Effektifitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Tertib administrasi keuangan sebagai pangkal tolak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Penerapan Teknilogi Informasi secara bersengaja&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Efisiensi dan pemangkasan jadwal pelayanan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;F.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;REKOMENDASI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Perlunya bagi setiap pejabat public selalu menjadikan UUD 1945 sebagai pegangan dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Bila perlu UUD 1945 selalu ada di saku atau di tas kerja masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UUD 1945 pasca Perubahan ke-IV, masih banyak kekurangan dan kelemahan, tetapi sebelum ketentuan dimaksud disempurnakan, apa yang ada sekarang tulah yang berlaku dan diberlakukan dalam praktik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UU yang terkait kepentingan politik praktis parpol diprioritaskan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UU Susduk MPR, DPR, DPD, dan DPRD&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;UU Pemilu, UU Pilpres dan UU Pemda yang memuat ketentuan pemilukada supaya diintegrasikan dan dilengkapi dalam satu UU, misalnya, menjadi UU tentang Pemilihan Pejabat Publik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Sesuai dengan tuntutan zaman, semua Lembaga Negara perlu mengadakan evaluasi untuk memperbaiki governance masing-masing dengan pelayanan yang semakin efektif dan efisien dan dengan memanfaatkan jasa teknologi modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6832503391274524436-2275943171104418371?l=6-craton.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/2275943171104418371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6832503391274524436/posts/default/2275943171104418371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://6-craton.blogspot.com/2010/12/sistem-ketatanegaraan-pasca-reformasi.html' title='SISTEM KETATANEGARAAN PASCA REFORMASI'/><author><name>6-craton</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_eq6Y_uUZlvY/SaQAnCLyYKI/AAAAAAAAABI/irAa-CXxjV0/S220/DSCI0013.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6832503391274524436.post-815144121502941277</id><published>2010-12-04T09:10:00.000+07:00</published><updated>2010-12-04T09:11:45.020+07:00</updated><title type='text'>STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA SETELAH &lt;br /&gt;PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 1945 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROF.DR.JIMLY ASSHIDDIQIE, SH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah Disampaikan Pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMINAR PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL VIII&lt;br /&gt;TEMA &lt;br /&gt;PENEGAKAN HUKUM DALAM ERA PEMBANGUNAN&lt;br /&gt;BERKELANJUTAN&lt;br /&gt;Diselenggarakan Oleh &lt;br /&gt;BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL&lt;br /&gt;DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA RI &lt;br /&gt;Denpasar, 14-18 Juli 2003    1&lt;br /&gt;STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA &lt;br /&gt;SETELAH PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 19451&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Prof.Dr. Jimly Asshiddiqie, SH2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang dasar 1945 telah mengalami perubahan-perubahan&lt;br /&gt;mendasar sejak dari Perubahan Pertama pada tahun 1999 sampai ke&lt;br /&gt;Perubahan Keempat pada tahun 2002. Perubahan-perubahan ituj juga meliputi&lt;br /&gt;materi yang sangat banyak, sehingga mencakup lebih dari 3 kali lipat jumlah&lt;br /&gt;materi muatan asli UUD 1945.  Jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir&lt;br /&gt;ketentuan, maka setelah empat kali mengalami perubahan, kini jumlah materi&lt;br /&gt;muatan UUD 1945 seluruhnya mencakup 199 butir ketentuan. Dengan&lt;br /&gt;demikian, dapat dikatakan bahwa meskipun namanya tetap merupakan UUD&lt;br /&gt;1945, tetapi dari sudut isinya UUD 1945 pasca Perubahan Keempat tahun 2002&lt;br /&gt;sekarang ini sudah dapat dikatakan merupakan Konstitusi baru sama sekali&lt;br /&gt;dengan nama resmi “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1945.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu penting disadai bahwa sistem ketatanegaraan&lt;br /&gt;Indonesia setelah Perubahan Keempat UUD 1945 itu telah mengalami&lt;br /&gt;perubahan-perubahan yang sangat mendasar. Perubahan-perubahan itu juga&lt;br /&gt;mempengaruhi struktur dan mekanisme structural organ-organ negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia yang tidak dapat lagi dijelaskan menurut cara berpikir lama. Banyak&lt;br /&gt;pokok-pokok pikiran baru yang diadopsikan ke dalam kerangka UUD 1945 itu.&lt;br /&gt;Empat diantaranya adalah (a) penegasan dianutnya citademokrasi dan&lt;br /&gt;                                                &lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; Disampaikan dalam symposium Nasional yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Hukum&lt;br /&gt;Nasional, Departemen Kehakiman dan HAM, 2003&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; Guru Besar Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, Ketua Asosiasi&lt;br /&gt;Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Indonesia   2&lt;br /&gt;nomokrasi secara sekaligus dan saling melengkapi secara komplamenter; (b)&lt;br /&gt;pemisahan kekuasaan dan prinsip “checks and balances’ (c) pemurnian sistem&lt;br /&gt;pemerintah presidential; dan (d) pengeuatan cita persatuan dan keragaman&lt;br /&gt;dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CITA DEMOKRASI DAN NOMOKRASI&lt;br /&gt;Negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat atau  democratie&lt;br /&gt;(democracy). Pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat.&lt;br /&gt;Kekuasaan yang sesungguhnya adalah berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan&lt;br /&gt;untuk rakyat. Kekuasaan bahkan diidealkan diselenggarakan bersama-sama&lt;br /&gt;dengan rakyat. Dalam sistem konstitusional Undang-Undang Dasar,&lt;br /&gt;pelaksanaannya kedaulatan rakyat itu disalurkan dan diselenggarakan menurut&lt;br /&gt;prosedur konstitusional yang ditetapkan dalam hukum dan konstitusi&lt;br /&gt;(constitutional democracy). Karena itu, prinsip kedaulatan rakyat (democratie)&lt;br /&gt;dan kedaulatan hukum (nomocratie) hendaklah diselenggarakan secara&lt;br /&gt;beriringan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Untuk itu, Undang-&lt;br /&gt;Undang Dasar negara kita menganut pengertian bahwa Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia itu adalah Negara Hukum yang demokrasi (democratische rechtstaat)&lt;br /&gt;dan sekaligus adalah Negara Demokrasi yang berdasarkan atau hukum&lt;br /&gt;(constitutional democracy) yang tidak terpisahkan satu sama lain.&lt;br /&gt;Kedaulatan rakyat (democratie) Indonesia itu diselenggarakan secara&lt;br /&gt;langsung dan melalui sistem perwakilan. Secara langsung, kedaulatan rakyat itu&lt;br /&gt;diwujudkan dalam tiga cabang kekuasaan yang tercermin dalam Majelis&lt;br /&gt;Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Daerah; presiden dan wakil presiden ; dan kekuasaan&lt;br /&gt;Kehakiman yang terdiri atas Mahkamah Konstitusidan Mahkamah Agung.&lt;br /&gt;Dalam menetukan kebijakan pokok pemerintahan dan mengatur ketentuan-&lt;br /&gt;ketentuan hukum berupa Undang-Undang dasar dan Undang-Undang (fungsi   3&lt;br /&gt;Legislatif), serta dalam menajlankan fungsi pengawasan (fungsi kontrol)&lt;br /&gt;terhadap jalannya pemerintahan, pelembagaan kedaulatan rakyat itu disalurkan&lt;br /&gt;melalui sistem perwakilan. Yaitu melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat,&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Di daerah-daerah&lt;br /&gt;propinsi dan kabupaten/kota, pelembagaan kedaulatan rakyat itu juga&lt;br /&gt;disalurkan melalui sistem perwakilan, yaitu melalui Dewan Perwakilan Rakyat&lt;br /&gt;Daerah.&lt;br /&gt;Penyaluran kedaulatan rakyat secara langsung (direct democracy)&lt;br /&gt;dilakukan melalui pemilihan umum untuk memlih anggota lembaga perwakilan&lt;br /&gt;dan memilih Presiden dan Wakil presiden. Disamping itu, kedaulatan rakyat&lt;br /&gt;dapat pula disalurkan setipa waktu melalui pelaksanaan hak dan kebebasan&lt;br /&gt;berpendapat, hak atas kebebasan pers, hak atas kebebasan informasi,&lt;br /&gt;kebebasan pers, hak atas kebebasan berorganisasi dan berserikat serta hak-&lt;br /&gt;hak asasi lainnya  yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar. Namun, prinsip&lt;br /&gt;kedaulatan rakyat yang bersifat langsung itu hendaklah dilakukan melalui&lt;br /&gt;saluran-saluran yang sah sesuai dengan prosedur demokrasi (procedural&lt;br /&gt;democracy). Sudah seharusnya lembaga perwakilan rakyat dan lembaga&lt;br /&gt;perwakilan daerah diberdayakan fungsinya dan pelembagaannya, sehingga&lt;br /&gt;dapat memperkuat sistem demokrasi yang berdasar atas hukum (demokrasi &lt;br /&gt;Konstitusional) dan prinsip negara hukum yang demokratis tersebut di atas.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, negara Indonesia juga disebut sebagai Negara&lt;br /&gt;Hukum (Rechtstaat), bukan Negara Kekuasaan (Machtstaat). Di dalamnya&lt;br /&gt;terkandung pengertian adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum&lt;br /&gt;dan konstitusi, dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan&lt;br /&gt;menurut sistem konstitusional yang diatur dalam Undang-Undang Dasar,&lt;br /&gt;adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang dasar,&lt;br /&gt;adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin&lt;br /&gt;persamaan setiap warga negara dalam hukum, serta menjamin keadilan bagi   4&lt;br /&gt;setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang&lt;br /&gt;berkuasa. Dalam paham Negara Hukum yang demikian itu, pada hakikatnya&lt;br /&gt;hukum itu sendirilah yang menjadi  penentu segalanya sesuai dengan prinsip&lt;br /&gt;nomokrasi (nomcrasy) dan doktrin ‘the Rule of Law,  and not of Man’. Dalam&lt;br /&gt;kerangka ‘the rule of Law’ itu, diyakini adanya pengakuan bahwa hukum itu&lt;br /&gt;mempunyai kedudukan tertinggi (supremacy of law), adanya persamaan dalam&lt;br /&gt;hukum dan pemerintah (equality before the law), dan berlakunya  asas legalitas&lt;br /&gt;dalam segala bentuknya dalam kenyataan praktek (due process of law).&lt;br /&gt;Namun demikian, harus pula ada jaminan bahwa hukum itu sendiri&lt;br /&gt;dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip&lt;br /&gt;supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari&lt;br /&gt;kedaulatan rakyat. Oleh sebab itu, prinsip negara hukum hendaklah dibangun&lt;br /&gt;dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat&lt;br /&gt;(democratische rechtsstaat). Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan&lt;br /&gt;dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka&lt;br /&gt;(Machtstaat). Prinsip Negara Hukum tidak boleh ditegakkan dengan&lt;br /&gt;mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar. Puncak kekuasaan hukum itu diletakkan pada konstitusi yang pada&lt;br /&gt;hakikatnya merupakan dokumen kesepakatan tentang sistem kenegaraan&lt;br /&gt;tertinggi. Bahkan, dalam sistem presidensil yang dikembangkan, konstitusi itulah&lt;br /&gt;yang pada hakikatnya merupakan Kepala Negara Republik Indonesia yang&lt;br /&gt;bersifat simbolik (symbolic head of state), dengan keberadaan Mahkamah&lt;br /&gt;Konstitusisebagai penyangga atau ‘the guardian of the Indonesian constitution’.&lt;br /&gt;Ketentuan mengenai cita-cita negara hukum ini secara tegas dirumuskan&lt;br /&gt;dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang menyatakan: ‘Negara Indonesia adalah&lt;br /&gt;Negara Hukum’, sebelum ini, rumusan naskah asli UUD 1945 tidak&lt;br /&gt;mencantumkan ketentuan mengenai negara hukum ini, kecuali hanya dalam&lt;br /&gt;penjelasan UUD 1945 yang menggunakan istilah ‘rechtsstaat’. Rumusan   5&lt;br /&gt;eksplisit bahwa Indonesia adalah negara hukum baru terdapat dalam Konstitusi&lt;br /&gt;Republik Indonesia Serikat tahun 1949 dan Undang-Undang Dasar Sementara&lt;br /&gt;Tahun 1950. Untuk mengatasi kekuarangan itulah maka dalam perubahan&lt;br /&gt;ketiga UUD 1945, ide negara hukum (rechtstaat atau the rule of law) itu&lt;br /&gt;diadopsikan secara tegas ke dalam rumusan pasal UUD, yaitu pasal 1 ayat (3)&lt;br /&gt;tersebut diatas. Sementara itu, ketentuan mengenai prinsip kedaulatan rakyat&lt;br /&gt;terdapat dalam pembukaan dan juga pada pasal 1 ayat (2). Cita-cita kedaulatan&lt;br /&gt;tergambar dalam pembukaan UUD 1945, terutama dalam rumusan alinea IV&lt;br /&gt;tentang dasar negara yang kemudian dikenal dengan sebutan Pancasila. Dalam&lt;br /&gt;alinea ini, cita-cita kerakyatan dirumuskan secara jelas sebagai “Kerakyatan&lt;br /&gt;yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.&lt;br /&gt;Sedangkan dalam rumusan pasal 1 ayat (2), semangat kerakyatan itu&lt;br /&gt;ditegaskan dalam ketentuan yang menegaskan bahwa “kedaulatan berada di&lt;br /&gt;tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMISAHAN KEKUASAAN DAN PRINSIP ‘CHECKS AND BALANCES’&lt;br /&gt;Prinsip kedaulatan yang berasal dari rakyat tersebut di atas selama ini&lt;br /&gt;hanya diwujudkan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang merupakan&lt;br /&gt;penjelmaan seluruh rakyat, pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat, dan yang&lt;br /&gt;diakui sebagai lembaga tertinggi negara dengan kekuasaan yang tidak terbatas.&lt;br /&gt;Dari Majelis inilah, kekuasaan rakyat itu dibagi-bagikan secara vertikal ke dalam&lt;br /&gt;lembaga-lembaga tinggi negara yang berada dibawahnya. Karena itu, prinsip&lt;br /&gt;yang dianut disebut sebagai prinsip pembagian kekuasaan (distribution of&lt;br /&gt;power). Akan tetapi, dalam Undan-Undang dasar hasil perubahan, prinsip&lt;br /&gt;kedaulatan rakyat tersebut ditentukan dibagikan secara horizontal dengan cara&lt;br /&gt;memisahkannya (separation of power) menjadi kekuasaan-kekuasaan yang&lt;br /&gt;dinisbatkan sebagai fungsi lembaga-lembaga negara yang sederajat dan saling&lt;br /&gt;mengendalikan satu sama lain berdasarkan prinsip ‘checks and balaces’.   6&lt;br /&gt;Cabang kekuasaan legislatif tetap berada di Majelis Permusyawaratan Rakyat,&lt;br /&gt;tetapi majelis ini terdiri dari dua lembaga perwakilan yang sederajat dengan&lt;br /&gt;lembaga negara lainnya. Untuk melengkapi pelaksanaan tugas-tugas&lt;br /&gt;pengawasan, disamping lembaga legislatif dibentuk pula Badan Pemeriksa&lt;br /&gt;Keuangan. Cabang kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden dan Wakil&lt;br /&gt;Presiden. Untuk memberikan nasehat dan saran kepada Presiden dan Wakil&lt;br /&gt;Presiden, dibentuk pula Dewan Pertimbangan Agung. Sedangkan cabang&lt;br /&gt;kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah&lt;br /&gt;Konstitusi. &lt;br /&gt;Majelis Permusyawaratan Rakyat tetap merupakan rumah penjelmaan&lt;br /&gt;seluruh rakyat yang strukturnya dikembangkan dalam dua kamar, yaitu Dewan&lt;br /&gt;Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Oleh karena itu,&lt;br /&gt;prinsip perwakilan daerah dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah harus&lt;br /&gt;dibedakan hakikatnya dari prinsip perwakilan rakyat dalam Dewan Perwakilan&lt;br /&gt;Rakyat.&lt;br /&gt;Maksudnya ialah agar seluruh aspirasi rakyat benar-benar dapat&lt;br /&gt;dijelmakan ke dalam Majelis Perusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua pintu.&lt;br /&gt;Kedudukan Majelis Pemusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua lembaga&lt;br /&gt;perwakilan itu itu adalah sederajad dengan Presiden dan Mahkamah Agung dan&lt;br /&gt;Mahkamah Konstitusi. Ketiga cabang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan&lt;br /&gt;yudikatif itu sama-sama sederajat dan saling mengontrol satu sama lain sesuai&lt;br /&gt;dengan prinsip  ‘Check and balances’. Dengan adanya prinsip  ‘Check and&lt;br /&gt;balances’  ini, maka kekuasaan negara dapat diatur, dibatasi dan bahkan&lt;br /&gt;dikontrol dengan sesebaik-baiknya, sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh&lt;br /&gt;aparat penyelenggara negara ataupun pribadi-pribadi yang kebetulan sedang&lt;br /&gt;menduduki jabatan dalam lembaga-lembaga negara yang bersangkutan dapat&lt;br /&gt;dicegah dan ditanggulangi dengan sebaik-baiknya,   7&lt;br /&gt;Pasal-pasal yang dapat dianggap mencerminkan perubahan tersebut&lt;br /&gt;antara lain adalah perubahan ketentuan pasal 5, terutama ayat (1) juncto pasal&lt;br /&gt;20 ayat (1) sampai dengan ayat (5) yang secara jelas menentukan bahwa fungsi&lt;br /&gt;legislatif ada pada Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan Presiden adalah&lt;br /&gt;kepala eksekutif. Disamping itu, ada pula ketentuan mengenai kewenangan&lt;br /&gt;MPR yang tidak lagi dijadikan tempat kemana presiden harus&lt;br /&gt;bertanggungjawab atau menyampaikan pertanggung-jawaban jabatannya.&lt;br /&gt;Selain itu, ketentuan mengenai Mahkamah Konstitusi yang diberi kewenangan&lt;br /&gt;untuk melakukan pengujian atas Undang-Undang terhadap Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar seperti ditentukan dalam pasal 24 ayat (1) juga mencerminkan dianutnya&lt;br /&gt;asas pemisahan kekuasaan dan prinsip  ‘check and balances’  antara cabang&lt;br /&gt;kekuasaan legislatif dan yudikatif. Ketiga ketentuan itu memastikan tafsir&lt;br /&gt;berkenaan dengan terjadinya pergeseran MPR dari kedudukannya sebagai&lt;br /&gt;lembaga tertinggi menjadi lembaga yang sederajat dengan Presiden&lt;br /&gt;berdasarkan pemisahan kekuasaan dan prinsip ‘check and balances’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENTIL&lt;br /&gt;Negara Indonesia merupakan negara yang berpenduduk terbesar keempat&lt;br /&gt;di dunia. Komposisi penduduknya sangat beragam, baik dari suku bangsa,&lt;br /&gt;etnisitas, anutan agama, maupun dari segi-segi lainnya. Wilayahnya pun sangat&lt;br /&gt;luas, terdiri atas lebih dari 17.000-an pulau besar dan kecil, dan sebagian&lt;br /&gt;terbesar terpencil dari kehidupan ramai. Kompleksitas dan keragaman itu&lt;br /&gt;sangat menentukan peta konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam&lt;br /&gt;masyarakat, sehingga tidak dapat dihindari keharusan berkembangnya sistem&lt;br /&gt;multi-partai dalam sistem demokrasi yang hendak dibangun. Agar peta&lt;br /&gt;konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat tersebut dapat&lt;br /&gt;disalurkan dengan sebaik-baiknya menurut prosedur demokrasi (procedural&lt;br /&gt;democracy), berkembang keinginan agar sistem pemerintahan yang dibangun   8&lt;br /&gt;adalah sistem Parlementer ataupun setidak-tidaknya varian dari sistem&lt;br /&gt;pemerintahan parlementer.&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari kenyataan bahwa sistem parlementer pernah gagal&lt;br /&gt;dipraktekkan dalam sejarah Indonesia modern di masa lalu, dan karena itu&lt;br /&gt;membuatnya kurang populer di mata masyarakat, realitas kompleksitas&lt;br /&gt;keragaman kehidupan bangsa Indonesia seperti tersebut diatas, justru&lt;br /&gt;membutuhkan sistem pemerintahan yang kuat dan stabil. Jika kelemahan&lt;br /&gt;sistem presidentil yang diterapkan dibawah Undang-Undang Dasar 1945 yang&lt;br /&gt;cenderung sangat “executive heavy” sudah dapat diatasi melalui pembaharuan&lt;br /&gt;mekanisme ketatanegaraan yang diwujudkan dalam Undang-Undang Dasar ini,&lt;br /&gt;maka ekses-ekses atau efek samping dalam prakek penyelenggaraan sistem&lt;br /&gt;pemerintahan Presidentil seperti selama ini terjadi tidak perlu dikhawatirkan lagi.&lt;br /&gt;Keuntungan sistem presidentil justru lebih menjamin stabilitas pemerintahan.&lt;br /&gt;Sistem ini juga dapat dipraktekkan dengan tetap menerapkan sistem multi-partai&lt;br /&gt;yang dapat mengakomodasikan peta konfigurasi kekuatan politik dalam&lt;br /&gt;masyarakat yang dilengkapi pangaturan konstitusional untuk mengurangi&lt;br /&gt;dampak negatif atau kelemahan bawaan dari sistem presidentil tersebut.&lt;br /&gt;Dalam sistem ini, terdapat lima prinsip penting, yaitu: &lt;br /&gt;(1)  Presiden dan Wakil Presiden merupakan satu institusi penyelenggara&lt;br /&gt;kekuasaan eksekutif negara yang tertinggi di bawah Undang-Undang&lt;br /&gt;Dasar. Dalam sistem ini tidak dikenal dan tidak perlu dibedakan adanya&lt;br /&gt;kepala negara dan kepala pemerintahan. Keduanya adalah Presiden dan&lt;br /&gt;Wakil Presiden. Dalam menjalankan pemerintahan negara, kekuasaan dan&lt;br /&gt;tanggungjawab politik berada ditangan Presiden (concentration of power&lt;br /&gt;and responsibility upon the President). &lt;br /&gt;(2)  Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat secara langsung dan&lt;br /&gt;karena itu secara politik tidak bertanggungjawab kepada Majelis   9&lt;br /&gt;Permusyawaratan Rakyat atau lembaga parlemen, melainkan&lt;br /&gt;bertanggungjawab langsung kepada rakyat yang memilihnya. &lt;br /&gt;(3)  Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat dimintakan pertanggung-&lt;br /&gt;jawabannya secara hukum apabila Presiden dan/atau Wakil Presiden&lt;br /&gt;melakukan pelanggaran hukum konstitusi. Dalam hal demikian, Presiden&lt;br /&gt;dan/atau Wakil Presiden dapat dituntut pertanggungjawaban oleh Dewan&lt;br /&gt;Perwakilan Rakyat untuk disidangkan dalam Majelis Permusyawaratan&lt;br /&gt;Rakyat, yaitu sidang gabungan antara Dewan Perwakilan Rakyat dan&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Daerah. Namun, sebelum diberhentikan, tuntutan&lt;br /&gt;pemberhentian Presidendan/atau Wakil Presiden yang didasarkan atas&lt;br /&gt;tuduhan pelanggaran atau kesalahan, terlebih dulu harus dibuktikan secara&lt;br /&gt;hukum melalui proses peradilan di Mahkamah Konstitusi. Jika tuduhan&lt;br /&gt;bersalah itu dapat dibuktikan secara hukum oleh Mahkamah Konstitusi,&lt;br /&gt;barulah atas dasar itu, MPR bersidang dan secara resmi mengambil&lt;br /&gt;putusan pemberhentian.&lt;br /&gt;(4)  Para Menteri adalah pembantu Presiden, Menteri diangkat dan&lt;br /&gt;diberhentikan oleh Presiden dan karena bertanggung-jawab kepada&lt;br /&gt;Presiden, bukan dan tidak bertanggungjawab kepada parlemen.&lt;br /&gt;Kedudukannya tidak tergantung kepada parlemen. Disamping itu, para&lt;br /&gt;Menteri itulah yang pada hakikatnya merupakan para pemimpin&lt;br /&gt;pemerintahan dalam bidang masing-masing. Karena itu, kedudukannya&lt;br /&gt;sangat penting dalam menjalankan roda pemerintahan; &lt;br /&gt;(5)  Untuk membatasi kekuasaan Presiden yang kedudukannya dalam sistem&lt;br /&gt;presidentil sangat kuat sesuai dengan kebutuhan untuk menjamin stabilitas&lt;br /&gt;peerintahan, ditentukan pula bahwa masa jabatan Presiden lima tahunan&lt;br /&gt;tidak boleh dijabat oleh orang yang sama lebih dari dua masa jabatan. Di&lt;br /&gt;samping itu, beberapa badan atau lembaga negara dalam lingkungan&lt;br /&gt;cabang kekuasaan eksekutif ditentukan pula independensinya dalam   10&lt;br /&gt;menjalankan tugas utamanya. Lembaga-lembaga eksekutif yang dimaksud&lt;br /&gt;adalah Bank Indonesia sebagai bank sentral, Kepolisian Negara dan&lt;br /&gt;Kejaksaan Agung sebagai aparatur penegakan hukum, dan Tentara&lt;br /&gt;Nasional Indonesia sebagai aparatur pertahanan negara. Meskipun&lt;br /&gt;keempat lembaga tersebut berada dalam ranah eksekutif, tetapi dalam&lt;br /&gt;menjalankan tugas utamanya tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan&lt;br /&gt;politik pribadi Presiden. Untuk menjamin hal itu, maka pengangkatan dan&lt;br /&gt;pemberhentian Gubernur dan Wakil Gubernur Bank Indonesia, Kepala&lt;br /&gt;Kepolisian Negara, Jaksa Agung, dan Panglima Tentara Nasional&lt;br /&gt;Indonesia hanya dapat dilakukan oleh Presiden setelah mendapat&lt;br /&gt;persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Pemberhentian para pejabat&lt;br /&gt;tinggi pemerintahan tersebut tanpa didahului dengan persetujuan Dewan&lt;br /&gt;Perwakilan Rakyat hanya dapat dilakukan oleh Presiden apabila yang&lt;br /&gt;bersangkutan terbukti bersalah dan karena itu dihukum berdasarkan vonis&lt;br /&gt;pengadilan yang bersifat tetap karena melakukan tindak pidana menurut&lt;br /&gt;tata cara yang diatur dengan Undang-Undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CITA PERSATUAN DAN KERAGAMAN DALAM NKRI&lt;br /&gt;Prinsip persatuan dibutuhkan karena kenyataan bahwa bangsa Indonesia&lt;br /&gt;sangat majemuk. Keragaman suku bangsa, agama, dan budaya yang diwarisi&lt;br /&gt;oleh bangsa Indonesia dalam sejarah mengharuskan bangsa Indonesia bersatu&lt;br /&gt;dengan seerat-eratnya dalam keragaman. Keragaman merupakan kekayaan&lt;br /&gt;yang harus dipersatukan (united), tetapi tidak boleh disatukan atau&lt;br /&gt;diseragamkan (uniformed). Karena itu, prinsip persatuan Indonesia tidak boleh&lt;br /&gt;diindentikkan dengan atau dikacaukan atau dikaitkan dengan istilah kesatuan&lt;br /&gt;yang berkenaan dengan persoalan bentuk bangsa. Prinsip persatuan juga tidak&lt;br /&gt;boleh dipersempit maknamya ataupun diindentikkan dengan pengertian&lt;br /&gt;pelembagaan bentuk Negara Kesatuan yang merupakan bangunan negara   11&lt;br /&gt;yang dibangun atas motto  ‘Bhineka–Tunggal–Ika’ (Unity in Diversity). Bentuk&lt;br /&gt;negara kita adalah Negara Kesatuan (Unitary State), sedangkan persatuan&lt;br /&gt;Indonesia adalah prinsip dasar bernegara yang harus dibangun atas dasar&lt;br /&gt;persatuan (unity), bukan kesatuan (uniformity).&lt;br /&gt;Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan ‘negara&lt;br /&gt;persatuan’ dalam arti sebagai negara yang warga negaranya erat bersatu, yang&lt;br /&gt;mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin&lt;br /&gt;segala warga negara bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan&lt;br /&gt;pemerintahan dengan tanpa kecuali. Dalam negara persatuan itu, otonomi&lt;br /&gt;individu diakui kepentingannya secara seimbang dengan kepentingan&lt;br /&gt;kolektivitas rakyat. Kehidupan orang per orang ataupun golongan-golongan&lt;br /&gt;dalam masyarakat diakui sebagai individu dan kolektivitas warga negara,&lt;br /&gt;terlepas dari ciri-ciri khusus yang dimiliki seseorang atau segolongan orang atas&lt;br /&gt;dasar kesukuan dan keagamaan dan lain-lain, yang membuat seseorang atau&lt;br /&gt;segolongan orang berbeda dari orang atau golongan lain dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Negara persatuan mengakui keberadaan masyarakat warga negara karena&lt;br /&gt;kewargaanya (civility). Dengan demikian, negara persatuan itu mempersatukan&lt;br /&gt;seluruh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;br /&gt;karena prinsip kewargaan yang bersamaan kedudukan dalam hukum dan&lt;br /&gt;pemerintahan. Namun, konsepsi negara persatuan itu sering disalah-pahami&lt;br /&gt;seakan-akan bersifat ‘integralistik’, yang mempersatukan rakyat secara totaliter&lt;br /&gt;bersama-sama dengan pemimpinnya seperti konsepsi Hitler yang didasarkan&lt;br /&gt;atas pandangan Hegel tentang negara Jerman. Istilah negara persatuan&lt;br /&gt;cenderung dipahami sebagai konsepsi atau cita negara (staatsidee) yang&lt;br /&gt;bersifat totaliter ataupun otoritarian yang mengabaikan pluralisme dan&lt;br /&gt;menafikkan otonomi individu rakyat yang dijamin hak-hak dan kewajiban&lt;br /&gt;asasinya dalam Undang Undang Dasar. Oleh karena itu, untuk tidak&lt;br /&gt;menimbulkan salah pengertian, istilah persatuan itu harus dikembalikan kepada   12&lt;br /&gt;bunyi rumusan sila ketiga Pancasila, yaitu “Persatuan Indonesia”, bukan&lt;br /&gt;“Persatuan dan Kesatuan Indonesia” apalagi  “Kesatuan Indonesia”. Persatuan&lt;br /&gt;adalah istilah filsafat dan prinsip bernegara, sedangkan kesatuan adalah istilah&lt;br /&gt;bentuk negara yang bersifat teknis. Bandingkan antara rumusan Pancasila&lt;br /&gt;dalam Pembukaan UUD 1945 dan rumusan pasal 1 ayat (1) yang menyatakan:&lt;br /&gt;“Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. Negara&lt;br /&gt;Kesatuan adalah konsepsi tentang bentuk negara, dan Republik adalah&lt;br /&gt;konsepsi mengenai bentuk pemerintahan yang dipilih dalam kerangka UUD&lt;br /&gt;1945.&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang berbentuk Negara Kesatuan (unitry state).&lt;br /&gt;Kekuasaan asal berada di pemerintah pusat. Namun kewenangan (authority)&lt;br /&gt;pemerintah pusat ditentukan batas-batasnya dalam Undang-Undang Dasar atau&lt;br /&gt;Undang-Undang ditentukan sebagai kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah&lt;br /&gt;daerah. Hubungan-hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan&lt;br /&gt;pemerintah Daerah Propinsi serta pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota, &lt;br /&gt;tidak diatur berdasarkan asas dekonsentrasi, melainkan hanya didasarkan atas&lt;br /&gt;asas otonomi atau desentralisasi dan tugas perbantuan (medebewin).&lt;br /&gt;Disamping itu, dalam rumusan pasal 18, pasal 18A dan pasal 18B (seluruhnya&lt;br /&gt;sebanyak 11 ayat), ditegaskan pula adanya pengakuan atas pluralisme di&lt;br /&gt;berbagai daerah. Pasal 18A ayat (1), misalnya menegaskan: “Hubungan&lt;br /&gt;kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi,&lt;br /&gt;kabupaten dan kota atau antara propinsi dan kabupaten dan kota diatur dengan&lt;br /&gt;Undang-Undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah,&lt;br /&gt;pasal 18B ayat (1) menyatakan: “Negara mengakui dan menghormati satuan-&lt;br /&gt;satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang&lt;br /&gt;diatur dengan Undang-Undang”. Pasal 18B ayat (2) menegaskan: “Negara&lt;br /&gt;mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat&lt;br /&gt;beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan   13&lt;br /&gt;perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia&lt;br /&gt;yang diatur dalam Undang-Undang”.&lt;br /&gt;Dengan ketentuan-ketentuan konstitusional demikian, berarti Negara&lt;br /&gt;Kesatuan Republik Indonesia diselenggarakan dengan pengaturan antar daerah&lt;br /&gt;yang tidak seragam antara satu sama lain. Dalam hubungan antara pusat dan&lt;br /&gt;daerah atau daerah propinsi dengan kabupaten/kota dimungkinkan adanya pola&lt;br /&gt;hubungan yang bersifat khusus seperti propinsi Papua. Pengaturan demikian&lt;br /&gt;dimaksud untuk menjamin agar seluruh bangsa Indonesia benar-benar bersatu&lt;br /&gt;dengan keragaman dalam bingkai Negara Kesatuan. Prinsip keadilan antar&lt;br /&gt;pusat dan propinsi dan daerah kabupaten/kota juga makin terjamin. Otonomi&lt;br /&gt;dan kebebasan rakyat dihadapan jajaran pemerintah pusat dan daerah juga&lt;br /&gt;makin tumbuh dan berkembang sesuai prinsip demokrasi. Untuk itu, susunan&lt;br /&gt;Negara Kesatuan dengan pengaturan yang bersifat khusus atau otonomi&lt;br /&gt;khusus dikembangkan sebagaimana mestinya dengan memperhatikan&lt;br /&gt;perbedaan tingkat kemampuan antar daerah diseluruh Indonesia. Karena itu,&lt;br /&gt;pelaksanaan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan yang&lt;br /&gt;memungkinkan adanya pengaturan khusus berupa daerah otonomi khusus itu&lt;br /&gt;hendaklah dilaksanakan secara sistematis dan bertahap, daerah-daerah yang&lt;br /&gt;belum atau tidak dapat melaksanakannya, perlu diberi kesempatan&lt;br /&gt;mempersiapkan diri. Daerah-daerah juga tidak perlu memaksakan diri untuk&lt;br /&gt;secepat mungkin menerapkan kebijakan otonomi daerah yang seluas-luasnya&lt;br /&gt;dengan meninggalkan sama sekali atau mengabaikan prinsip-prinsip&lt;br /&gt;penyelenggaraan pemerintah daerah berdasarkan asas dekonsentrasi.&lt;br /&gt;Pemerintah pusat bertanggungjawab menyukseskan pelaksanaan otonomi&lt;br /&gt;daerah yang dilakukan secara bertahap itu. Disamping itu, meskipun susunan&lt;br /&gt;pemerintahan bersifat desentralistis, tetapi pemerintah pusat tetap memiliki&lt;br /&gt;kewenangan koordinasi antar daerah propinsi, dan pemeritah daerah propinsi   14&lt;br /&gt;memiliki kewenangan koordinasi antar daearah kabupaten/kota sebagaimana&lt;br /&gt;mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORMAT BARU PARLEMEN TIGA KAMAR: MPR, DPR, DAN DPD&lt;br /&gt;1. Majelis Permusyawaratan Rakyat&lt;br /&gt;Semula, Majelis Permusyawaratan Rakyat kita dirancang untuk diubah&lt;br /&gt;menjadi nama ‘genus’ dari lembaga perwakilan rakyat atau parlemen Indonesia&lt;br /&gt;yang terdiri atas dua kamar dewan. Kamar pertama disebut Dewan Perwakilan&lt;br /&gt;Rakyat, dan kamar kedua disebut Dewan Perwakilan Daerah. Sebagai&lt;br /&gt;perbandingan, prinsip yang sama dapat kita temukan dalam konstitusi Amerika&lt;br /&gt;Serikat yang mementukan bahwa semua kekuasaan legislatif ada di Kongres &lt;br /&gt;yang terdiri atas ‘The House of Representatives and Senate’. Memang, anggota&lt;br /&gt;senat bisa disebut Senator sedangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau&lt;br /&gt;‘House of Representatives’ biasa disebut ‘Congressman’. Akan tetapi,&lt;br /&gt;sesungguhnya, baik anggota Senat maupun anggota DPR Amerika Serikat itu&lt;br /&gt;sama-sama merupakan anggota Kongres . Akan halnya nanti dengan anggota&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah, pada&lt;br /&gt;hakikatnya mereka adalah anggota MPR, tetapi secara sendiri-sendiri mereka&lt;br /&gt;juga dapat dibedakan antara anggota DPR atau anggota DPD. Demikian pula&lt;br /&gt;dalam konstitusi Kerajaan Belanda dikatakan bahwa kekuasaan legislatif berada&lt;br /&gt;di ‘Staten Generaal’  yang terdiri atas  “Eerste Kamer en Tweede Kamer”.&lt;br /&gt;Keanggotaan dalam masing-masing kamar parlemen Belanda ini tidaklah&lt;br /&gt;mengurangi pengertian bahwa pada hakikatnya mereka juga anggota  ‘Staten&lt;br /&gt;Generaal’.&lt;br /&gt;Namun demikian, setelah perubahan Keempat UUD 1945, keberadaan&lt;br /&gt;MPR yang selama ini disebut sebagai lembaga tertinggi negara itu memang&lt;br /&gt;telah mengalami perubahan yang sangat mendasar, akan tetapi keberadaannya   15&lt;br /&gt;tetap ada sehingga sistem yang kita anut tidak dapat disebut sistem bikameral&lt;br /&gt;ataupun satu kamar, melainkan sistem tiga kamar (trikameralisme), perubahan-&lt;br /&gt;perubanan mendasar dalam kerangka struktur parlemen Indonesia itu memang&lt;br /&gt;telah terjadi mengenai hal-hal sebagai berikut.  Pertama, susunan keanggotaan&lt;br /&gt;MPR berubah secara struktural karena dihapuskannya keberadaan Utusan&lt;br /&gt;Golongan yang mencerminkan prinsip perwakilan fungsional (functional&lt;br /&gt;representation) dari unsur keanggotaan MPR. Dengan demikian, anggota MPR&lt;br /&gt;hanya terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang&lt;br /&gt;mencerminkan prinsip perwakilan politik (political representation) dan anggota&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mencerminkan prinsip perwakilan&lt;br /&gt;daerah (regional representatif).  Kedua, bersamaan dengan perubahan yang&lt;br /&gt;bersifat struktural tersebut, fungsi MPR juga mengalami perubahan mendasar&lt;br /&gt;(perubahan fungsional). Majelis ini tidak lagi berfungsi sebagai ‘supreme body’&lt;br /&gt;yang memiliki kewenangan tertinggi dan tanpa kontrol, dan karena itu&lt;br /&gt;kewenangannyapun mengalami perubahan-perubahan mendasar. Sebelum&lt;br /&gt;diadakannya perubahan UUD, MPR memiliki 6 (enam) kewenangan yaitu: &lt;br /&gt;(a) menetapkan Undang-Undang Dasar &amp;amp; mengubah Undang-Undang Dasar,&lt;br /&gt;(b) menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara,&lt;br /&gt;(c) memilih Presiden dan Wakil Presiden,&lt;br /&gt;(d) meminta dan menilai pertanggungjawaban Presiden,&lt;br /&gt;(e) memberhentikan Presiden dan/ atau Wakil Presiden.&lt;br /&gt;Sekarang, setelah diadakannya perubahan UUD 1945, kewenangan MPR&lt;br /&gt;berubah menjadi: &lt;br /&gt;(a) menetapkan Undang-Undang Dasar dan/atau Perubahan UUD, &lt;br /&gt;(b) melantik Presiden dan Wakil Presiden,&lt;br /&gt;(c) memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden, serta    16&lt;br /&gt;(d) menetapkan Presiden dan/atau Wakil Presiden pengganti sampai&lt;br /&gt;terpilihnya Presiden dan/atau Wakil Presiden  sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Ketiga, diadopsi prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power)&lt;br /&gt;secara tegas antara fungsi legistatif dan eksekutif dalam perubahan pasal 5 ayat&lt;br /&gt;(1) juncto pasal 20 ayat (1) dalam perubahan pertama UUD 1945 yang&lt;br /&gt;dipertegas lagi dengan tambahan pasal 20 ayat (5) perubahan kedua UUD&lt;br /&gt;1945.  Dalam perubahan-perubahan tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan&lt;br /&gt;membentuk Undang-Undang berada di tangan DPR, meskipun Presiden&lt;br /&gt;sebagai kepala pemerintahan eksekutif tetap diakui haknya untuk mengajukan&lt;br /&gt;sesuatu rancangan Undang-Undang. Dengan perubahan ini berarti UUD 1945&lt;br /&gt;tidak lagi menganut sistem MPR berdasarkan prinsip ‘Supremasi parlemen’ dan&lt;br /&gt;sistem pembagian kekuasaan (distribution of power) oleh lembaga tertinggi&lt;br /&gt;MPR ke lembaga-lembaga negara di bawahnya. Keempat, diadopsinya prinsip&lt;br /&gt;pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dalam satu paket secara langsung oleh&lt;br /&gt;rakyat dalam ketentuan pasal 6A ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945 yang&lt;br /&gt;sekaligus dimaksud untuk memperkuat dan mempertegas anutan sistem&lt;br /&gt;pemerintahan presidential dalam UUD 1945. Dengan sistem pemilihan langsung&lt;br /&gt;oleh rakyat itu, maka konsep dan sistem pertanggungjawaban Presiden tidak&lt;br /&gt;lagi dilakukan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat, tetapi juga langsung&lt;br /&gt;kepada rakyat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam hubungannya&lt;br /&gt;dengan pengorganisasian kedaulatan rakyat, kedaulatan yang ada ditangan&lt;br /&gt;rakyat itu, sepanjang menyangkut fungsi legislatif, dilakukan oleh MPR yang&lt;br /&gt;terdiri atas dua kamar dewan, sedangkan dalam bidang eksekutif dilakukan oleh&lt;br /&gt;Presiden dan Wakil Presiden sebagai satu paket kepemimpinan eksekutif yang&lt;br /&gt;dipilih langsung oleh rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dulu dikenal&lt;br /&gt;sebagai lembaga tertinggi negara, dimasa depan berubah menjadi nama dari&lt;br /&gt;lembaga perwakilan rakyat Indonesia yang terdiri atas Dewan Perwakilan&lt;br /&gt;Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang secara bersama-sama   17&lt;br /&gt;kedudukannya sederajat dengan Presiden dan Wakil Presiden, serta dengan&lt;br /&gt;Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.&lt;br /&gt;Namun, seperti dikemukakan diatas, lembaga MPR pada pokoknya&lt;br /&gt;menurut ketentuan UUD 1945 pasca perubahan Keempat tetap berdiri sendiri di&lt;br /&gt;samping DPR dan DPD. Banyak kritik dan ketidakpuasan mengenai pengaturan&lt;br /&gt;UUD 1945 mengenai hal ini, tetapi dalam kenyataannya memang demikianlah&lt;br /&gt;ketentuannya dalam UUD 1945 pasca Perubahan Keempat. Menurut ketentuan&lt;br /&gt;pasal 2 ayat (1), MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD. Pasal 8 ayat&lt;br /&gt;(2) menyatakan dalam hal terjadinya kekosongan wakil presiden, selambat-&lt;br /&gt;lambatnya dalam waktu 60 hari, MPR bersidang untuk memilih wakil presiden&lt;br /&gt;dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Sedangkan ayat (3) nya&lt;br /&gt;menyatakan bahwa dalam hal terjadinya kekosongan presiden dan wakil&lt;br /&gt;presiden secara bersamaan, maka selambat-lambatnya 30 hari setelah itu, MPR&lt;br /&gt;bersidang untuk memilih presiden dan wapres dari dua pasangan calon&lt;br /&gt;presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang&lt;br /&gt;pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara (pen: ‘yang’) terbanyak&lt;br /&gt;pertama dan kedua dalam pemilu sebelumnya. Menurut ketentuan pasal 3 ayat&lt;br /&gt;(3), pasal 7A dan 7B, MPR juga berwenang untuk mengubah dan menetapkan&lt;br /&gt;UUD sebagaimana dimaksud oleh pasal 3 ayat (1) dan pasal 37 UUD 1945.&lt;br /&gt;dengan adanya kewenangan yang demikian itu maka dapat dipahami bahwa&lt;br /&gt;MPR itu adalah lembaga yang berdiri sendiri disamping DPR dan DPD. Dengan&lt;br /&gt;demikian, meskipun didunia hanya dikenal adanya struktur parlemen unicameral&lt;br /&gt;dan bicameral, UUD 1945 memperkenalkan sistem ketiga, yaitu parlemen&lt;br /&gt;trikameral atau trikameralisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)&lt;br /&gt;Keberadaan Dewan Perwakilan Daerah menurut ketentuan UUD 1945&lt;br /&gt;pasca perubahan juga banyak dikritik orang. Lembaga ini semula didesain   18&lt;br /&gt;sebagai kamar kedua parlemen Indonesia di masa depan. Akan tetapi, salah&lt;br /&gt;satu ciri bikameralisme yang dikenal di dunia ialah apabila kedua-dua kamar&lt;br /&gt;yang dimaksud sama-sama menjalankan fungsi legislatif sebagaimana&lt;br /&gt;seharusnya. Padahal, jika diperhatikan DPD sama sekali tidak mempunyai&lt;br /&gt;kekuasaan apapun dibidang ini. DPD hanya memberikan masukan&lt;br /&gt;pertimbangan, usul, ataupun saran, sedangkan yang berhak memutuskan&lt;br /&gt;adalah DPR, bukan DPD. Karena itu, keberadaan DPD di samping DPR tidak&lt;br /&gt;dapat disebut sebagai bikameralisme dalam arti yang lazim. Selama ini&lt;br /&gt;dipahami bahwa jika kedudukan kedua kamar itu di bidang legislatif sama kuat,&lt;br /&gt;maka sifat bikameralismenya disebut ‘strong becameralism’, tetapi jika kedua&lt;br /&gt;tidak sama kuat, maka disebut ‘soft becameralism’. Akan tetapi, dalam&lt;br /&gt;pengaturan UUD 1945 pasca perubahan Keempat, bukan saja bahwa struktur&lt;br /&gt;yang dianut tidak dapat disebut sebagai ‘strong becameralism’ yang kedudukan&lt;br /&gt;keduanya tidak sama kuatnya, tetapi bahkan juga tidak dapat disebut sebagai&lt;br /&gt;‘soft becameralism’ sekalipun.&lt;br /&gt;DPD, menurut ketentuan pasal 22D (a) dapat mengajukan rancangan UU&lt;br /&gt;tertentu kepada DPR (ayat 1), (b) ikut membahas rancangan UU tertentu (ayat&lt;br /&gt;2), (c) memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan UU APBN dan&lt;br /&gt;rancangan UU tertentu (ayat 2), (d) dapat melakukan pengawasan atas&lt;br /&gt;pelaksanaan UU tertentu (ayat 3). Dengan kata lain, DPD hanya memberikan&lt;br /&gt;masukan, sedangkan yang memutuskan adalah DPR, sehingga DPD ini lebih&lt;br /&gt;tepat disebut sebagai Dewan Pertimbangan DPR, karena kedudukannya hanya&lt;br /&gt;memberikan pertimbangan kepada DPR. &lt;br /&gt;Ironisnya, mekanisnme pengisian jabatan keanggotaan DPD ini lebih berat&lt;br /&gt;bila dibandingkan dengan mekanisme pengisian keanggotaan DPR. Anggota&lt;br /&gt;DPD dipilih dari setiap propinsi melalui pemilu (pasal 22c ayat 1), anggota DPD&lt;br /&gt;dari tiap propinsi jumlahnya sama dan seluruh anggota DPD tidak lebih dari&lt;br /&gt;sepertiga jumlah anggota DPR (ayat 2). Jika ditentukan bahwa dari setiap   19&lt;br /&gt;propinsi jumlahnya 4 orang, maka seseorang yang ingin menduduki kursi DPD&lt;br /&gt;harus bersaing di tingkat propinsi untuk memperebutkan 4 kursi. Misalnya saja,&lt;br /&gt;di Jawa Timur, satu kursi anggota DPD membutuhkan dukungan suara sekitar&lt;br /&gt;5,5 juta pemilih, sedangkan untuk menjadi anggota DPR cukup dibutuhkan&lt;br /&gt;sekitar 550 ribu suara pemilih. Disamping itu, peserta pemilu menjadi anggota&lt;br /&gt;DPD adalah perorangan, sedangkan peserta pemilu untuk DPR adalah partai&lt;br /&gt;politik. Artinya, dapat terjadi tokoh perorangan yang akan tampil sebagai calon&lt;br /&gt;anggota DPD menghadapi kesulitan luar biasa dalam menggalang dukungan&lt;br /&gt;bagi dirinya, sedangkan calon anggota DPR cukup memanfaatkan struktur&lt;br /&gt;partai politiknya sebagai mesin penghimpun dukungan suara dalam pemilihan&lt;br /&gt;umum. Dengan perkataan lain, sudah sulit-sulit untuk mejadi anggota&lt;br /&gt;perwakilan ditingkat pusat, setelah berhasil, kewenangannya sangat terbatas.&lt;br /&gt;Karena itu, banyak orang yang pesimis dengan pola pengaturan DPD yang&lt;br /&gt;demikian. &lt;br /&gt;Tentu ada juga argumen sebaliknya yang cenderung lebih optimis. Justru&lt;br /&gt;karena kewenangannya yang terbatas itu menyebabkan DPD dapat terhindar&lt;br /&gt;dari sasaran kritik dari masyarakat madani (civil society), asalkan para anggota&lt;br /&gt;DPD dapat terbuka. Karena pusat kewenangan untuk memutuskan atas nama&lt;br /&gt;rakyat dan untuk kepentingan dan aspirasi rakyat ada di DPR, maka DPR-lah&lt;br /&gt;yang akan menjadi pusat hujatan dan kemarahan apabila aspirasi rakyat tidak&lt;br /&gt;sungguh-sungguh disalurkan. Dengan demikian, para anggota DPD dapat&lt;br /&gt;bermain ditengah gelombang aspirasi rakyat secara lebih terbuka dan memihak&lt;br /&gt;kepada rakyat didaerah-daerah. Karena itu, bagi para politisi muda, DPD dapat&lt;br /&gt;menjadi wadah baru untuk aktualisasi diri dan forum pelatihan kepemimpinan&lt;br /&gt;politik yang efektif untuk masa depan. Oleh karena itu, ditengah kritik dan&lt;br /&gt;kekecewaan atas pengaturan yang sangat mengecil arti lembaga perwakilan&lt;br /&gt;daerah ini, masih tersisa optimisme yang cukup menjanjikan untuk penataan&lt;br /&gt;sistem politik nasional ke depan.   20&lt;br /&gt;3. Dewan Perwakilan Rakyat &lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan UUD 1945 pasca Perubahanan Keempat, fungsi&lt;br /&gt;legislatif berpusat di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini jelas terlihat&lt;br /&gt;dalam rumusan pasal 20 ayat (1) yang baru yang menyatakan: “Dewan&lt;br /&gt;Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”.&lt;br /&gt;Selanjutnya dinyatakan: “setiap rancangan Undang-Undang dibahas oleh DPR&lt;br /&gt;dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Rancangan Undang-&lt;br /&gt;Undang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu”.&lt;br /&gt;Kemudian dinyatakan pula” Presiden mengesahkan rancangan Undang-Undang&lt;br /&gt;yang telah mendapat disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang” (ayat&lt;br /&gt;4), dan “dalam hal rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama&lt;br /&gt;tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak rancangan&lt;br /&gt;Undang-Undang tersebut disetujui, rancangan Undang-Undang tersebut sah&lt;br /&gt;menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan”.&lt;br /&gt;Dari ketentuan pasal 20 itu dapat dipahami bahwa:  Pertama,  lembaga&lt;br /&gt;legislasi atau legislator adalah DPR, bukan Presiden dan apalagi DPD; Kedua,&lt;br /&gt;Presiden adalah lembaga yang mengesahkan rancangan Undang-Undang yang&lt;br /&gt;telah mendapat persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR resmi menjadi&lt;br /&gt;Undang-Undang;  Ketiga, rancangan Undang-Undang yang telah resmi SAH&lt;br /&gt;menjadi Undang-Undang  wajib diundangkan sebagaimana mestinya; Keempat,&lt;br /&gt;setiap rancangan Undang-Undang dibahas bersama untuk mendapat&lt;br /&gt;persetujuan bersama antara DPR dan Presiden dalam persidangan DPR.&lt;br /&gt;Dalam hal rancangan Undang-Undang berasal dari inisiatif DPR, maka Institusi&lt;br /&gt;DPR sebagai satu kesatuan akan berhadapan dengan Presiden sebagai satu&lt;br /&gt;kesatuan institusi yang dapat menolak usul inisiatif DPR itu seluruhnya ataupun&lt;br /&gt;sebagian materinya. Dalam hal demikian maka rancangan Undang-Undang&lt;br /&gt;yang diajukan oleh DPR itu tidak dapat lagi diajukan dalam persidangan DPR&lt;br /&gt;masa itu. Posisi Presiden dan DPR dalam hal ini dapat dikatakan saling   21&lt;br /&gt;berimbang. Di satu pihak, dalam proses pembahasan materi rancangan&lt;br /&gt;Undang-Undang, posisi Presiden/pemerintah lemah karena harus berhadapan&lt;br /&gt;dengan DPR sebagai satu kesatuan institusi. Dalam hal ini, Presiden tidak dapat&lt;br /&gt;lagi memanfaatkan dukungan partai politiknya sendiri yang ada di DPR untuk&lt;br /&gt;mendukung kebijakan Pemerintah mengenai materi rancangan Undang-Undang  &lt;br /&gt;yang sedang dibahas. Akan tetapi, dipihak lain, Presiden/Pemerintah&lt;br /&gt;mempunyai posisi yang kuat karena dapat mem-‘veto’ dengan cara menolak&lt;br /&gt;untuk memberikan persetujuan atas sesuatu materi ataupun keseluruhan materi&lt;br /&gt;Undang-Undang  yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Kelima,  dalam hal rancangan Undang-Undang itu datang dari Presiden,&lt;br /&gt;maka seperti terhadap rancangan Undang-Undang inisiatif DPR,&lt;br /&gt;pembahasannya pun dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan&lt;br /&gt;persetujuan bersama. Dalam hal ini, yang berhak menolak seluruhnya ataupun&lt;br /&gt;sebagiannya adalah DPR sebagai institusi. Jika rancangan itu ditolak&lt;br /&gt;seluruhnya oleh DPR, maka rancangan Undang-Undang itu juga tidak dapat lagi&lt;br /&gt;diajukan dalam persidangan DPR masa yang bersangkutan. Dalam forum&lt;br /&gt;pengambilan putusan oleh DPR dapat terjadi bahwa sesuatu materi ataupun&lt;br /&gt;seluruh materi rancangan Undang-Undang yang bersangkutan diputuskan&lt;br /&gt;dengan pemungutan suara dapat rapat paripurna DPR. Dalam hal demikian,&lt;br /&gt;Presiden/pemerintah tidak mempunyai ‘voting rights’ sama sekali. Maka dapat&lt;br /&gt;dikatakan bahwa dalam hal ini DPR mempunyai kedudukan yang lebih kuat&lt;br /&gt;daripada Presiden/Pemerintah, karena DPR-lah yang memutuskan, bukan&lt;br /&gt;Presiden. Jika sebagian materi rancangan Undang-Undang  itu, tidak mendapat&lt;br /&gt;DPR berarti materi yang bersangkutan harus dikeluarkan dari rancangan&lt;br /&gt;Undang-Undang  yang bersangkutan, dan secara a contrario, juga tidak dapat&lt;br /&gt;diajukan lagi untuk diatur dengan atau dalam Undang-Undang  lain dalam&lt;br /&gt;persidangan DPR masa itu.   22&lt;br /&gt;Keenam, setelah suatu rancangan Undang-Undang mendapat persetujuan&lt;br /&gt;bersama yang ditandai oleh pengesahannya dalam rapat paripurna DPR, maka&lt;br /&gt;rancangan Undang-Undang  yang bersangkutan secara substantif atau secara&lt;br /&gt;material telah menjadi Undang-Undang, tetapi belum mengikat umum karena&lt;br /&gt;belum disahkan oleh Presiden serta diundangkan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Karena, RUU yang telah mendapat persetujuan dalam rapat paripurna DPR itu&lt;br /&gt;secara materiel tidak dapat diubah meskipun Presiden tidak menyetujui isinya.&lt;br /&gt;RUU  akan berubah menjadi resmi mengikat umum semata-mata karena (a)&lt;br /&gt;faktor pengesahan oleh Presiden dengan cara menandatangani naskah&lt;br /&gt;Undang-Undang  itu, dan (b) faktor tenggang waktu 30 hari sejak pengambilan&lt;br /&gt;keputusan atas rancangan Undang-Undang  tersebut dalam rapat paripurna&lt;br /&gt;DPR. Dengan demikian, secara materiel, proses pembentukan Undang-Undang &lt;br /&gt;telah selesai (final) dengan telah diambilnya putusan dalam rapat paripurna&lt;br /&gt;DPR yang mengesahkan rancangan Undang-Undang  yang telah dibahas&lt;br /&gt;bersama. Karena itu, dapat dibedakan adanya dua instansi pengesahan suatu &lt;br /&gt;rancangan Undang-Undang, yaitu pengesahan materiel oleh DPR dan&lt;br /&gt;pengesahan formil oleh Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat&lt;br /&gt;(4) UUD 1945. Tindakan pengesahan materiel itu dilakukan melalui&lt;br /&gt;pengembilan putusan akhir oleh DPR atas suatu rancangan Undang-Undang &lt;br /&gt;dalam persidangan atau rapat paripurna DPR, sedangkan tindakan pengesahan&lt;br /&gt;formil dilakukan oleh Presiden dengan cara membubuhkan tandatangan pada&lt;br /&gt;bagian akhir naskah Undang-Undang.  Selanjutnya, atas perintah Presiden,&lt;br /&gt;Undang-Undang yang bersangkutan diundangkan dengan cara&lt;br /&gt;menempatkannya dalam registrasi Lembaran Negara dengan memberikan&lt;br /&gt;nomer registrasi dan pembuatan salinan oleh Sekretaris Negara, dan penerbitan&lt;br /&gt;Lembaran Negara yang bersangkutan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   23&lt;br /&gt;Soal Persetujuan Bersama:&lt;br /&gt;Berkenaan dengan unsur ‘persetujuan bersama’ yang seharusnya&lt;br /&gt;tercermin dalam keputusan akhir yang diambil dalam rapat paripurna DPR,&lt;br /&gt;selintas memang dapat dikatakan mengandung kontradiksi tersendiri. Di satu&lt;br /&gt;pihak, putusan akhir DPR tersebut sudah mengandung pengertian ‘persetujuan&lt;br /&gt;bersama’ tersebut. Tetapi, adanya ketentuan pasal 20 ayat (5) yang&lt;br /&gt;menyatakan “Dalam Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama&lt;br /&gt;tersebut tidak disahkan oleh Presiden….” Menunjukkan bahwa ada&lt;br /&gt;kemungkinan suatu rancangan Undang-Undang yang secara materiel telah&lt;br /&gt;disahkan oleh DPR tersebut tidak disahkan secara formil oleh Presiden. Alasan&lt;br /&gt;Presiden menolak mengesahkannya, bisa saja karena pertimbangan bahwa&lt;br /&gt;materi Undang-Undang  yang bersangkutan bertentangan dengan Undang-&lt;br /&gt;Undang  Dasar. Karena itu, kualitas rapat paripurna DPR untuk pengambilan&lt;br /&gt;keputusan akhir terhadap rancangan Undang-Undang tersebut dapat dibedakan&lt;br /&gt;antara rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR atau berasal dari&lt;br /&gt;Presiden/Pemerintah. Jika rancangan Undang-Undang  datang dari Presiden,&lt;br /&gt;maka pengambilan
